HARLA 1 LSBO KHALIFAH

Pentas Seni Untuk Amal Panti Asuhan Di Kota Manado, Yang Dibuka Dengan Seminar Budaya dan Pameran Foto Pendidikan LSBO Khalifah

PENDIDIKAN DAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU

Foto Bersama Pengurus LSBO Khalifah dan Anggota Baru Setelah Melewati Malam Pengukuhan dan Renungan Di Pondok Pesantren Al-Khairaat Mapanget Manado.

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Lagi Asyik Nonton and Menyemangati Tim Futsal Divisi Olahraga LSBO Khalifah..Bersemangat....!!!!

PENTAS SENI AWAL TAHUN

Foto Bersama Anggota Lembaga Seni Buadaya dan Olahraga Khalifah Di Acara Pentas Seni Awal Tahun Perkuliahan STAIN Manado

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Setelah Mengurusi Kegiatan, Anggota Korps Putri Masih Sempat Berfoto Ria ...... Masih Tetap Semangat... Bravo Korps Putri...

TAHUN BARU ISLAM

Anggota Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Memeriahkan Acara Satu Muharram 1431H Dengan Mengikuti Pawai Keliling Kota Manado Sulawesi Utara

LSBO KHALIFAH

Kalau Kau Tidak Ingin Diganggu Jangan Kau Mengganggu...!!! Sebab Kami Tidak Mau Diganggu...!!! Jika Kau Akan Melakukan Kerusakan Di STAIN Manado, Maka Kau Berhadapan Dengan Kami...!!!

LAIN PERGI YANG LAIN DATANG

Foto Bersama Pasca Pemutihan Anggota LEmbaga Seni Budaya dan Olahraga LSBO Khalifah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Manado

Senin, 28 Oktober 2013

MEDIA MANA YANG HARUS DIPERCAYA ???



Perkembangan media massa Indonesia dalam satu dekade terakhir sungguh pesat. Berbagai media baru tumbuh. Sementara yang lama terancam. Bisnis media bukan lagi monopoli sejumlah pengusaha saja seperti Jakob Oetama dengan Kompas-Gramedia-nya, Dahlan Iskan dengan Jawa Posnya, Goenawan Mohammad dengan Temponya, atau Surya Paloh dengan Grup Medianya.

Konglomerat kakap yang tadinya tidak main di bisnis media mulai merambah bisnis ini. Sebut saja sebagai contoh, perusahan rokok Djarum yang baru saja membeli Kaskus, sebuah forum komunitas terbesar di Indonesia. Atau Lippo Grup yang dalam beberapa tahun terakhir menggeluti bisnis media di bawah Berita Satu Media Holdings. Begitupun Chairul Tandjung yang terjun ke media dengan bendera Trans Corporationnya.

Lebih unik lagi, dalam beberapa tahun terakhir, tren bisnis media di Indonesia adalah grouping atau pengelompokan. Satu grup bisa memiliki begitu banyak media. Penelitian yang dilakukan Merlyna Lim, Director of Participatory Media Lab at ASU, Faculty of School of Social Transformation and Consortium for Science, Policy, and Outcomes, Arizona State University, menunjukkan bahwa paling tidak ada 12 grup usaha media di Indonesia.

Ke-12 grup itu adalah, Media Nusantara Citra (MNC) Group milik Hary Tanoesoedibjo, Mahaka Group milik Erick Tohir, Kelompok Kompas Gramedia milik Jakob Oetama, Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan, Media Bali Post Group milik Satria Narada, Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Lippo Group milik James T Riady, Bakrie & Brothers milik Anindya Bakrie, Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo, Media Group milik Surya Paloh, Mugi Reka Aditama (MRA) Group milik Dian Muljani Soedarjo, dan Trans Corpora milik Chairul Tanjung.

Tetapi sebenarnya masih ada group lain yang tidak dimasukkan Merlyna dalam penelitiannya yaitu Tempo Group milik Goenawan Muhammad dan Bisnis Indonesia Group milik R Sukamdani S Gitosardjono. Kedua grup ini juga cukup kuat dan tangguh serta, terutama Bisnis Indonesia, memiliki usaha lain selain media seperti 12 grup di atas.

Dalam pemaparan hasil penelitiannya berjudul “At Crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia”  Merlina Lim mengatakan, sebagian besar pemilik grup media itu juga aktif di partai politik. Bahkan ada yang menjadi petinggi partai. Kalaupun ada yang tidak aktif di partai, paling sedikit mereka dekat dengan penguasa dan petinggi partai.

Dia misalnya menyebutkan, Surya Paloh pernah menjadi petinggi Partai Golkar lalu keluar dari partai beringin itu dan mendirikan Nasional Demokrat menggandeng Hary Tanoesoedibjo, yang pada perjalannya, Hary Tanoesoedibjo dengan ambisi besar harus keluar dari Nasdem dan memilih Hanura sebagai lopatan politik sambil membesarkan Perindo. Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie & Brothers adalah Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Lippo, meski tidak aktif di partai politik, tetapi dengan menempatkan Theo Sambuaga sebagai Presiden Direkturnya cukup memperlihatkan preferensi politik James T Riady. Theo Sambuaga Partai Golkar. Sedangkan Chairul Tanjung dan Dahlan Iskan memang tidak masuk partai politik tetapi mereka sangat dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Hary Tanoesoedibjo MSC Group (MNS TV, RCTI, GlobalTV, Koran Sindo, dll) Dari Pro Nasdem berubah menjadi Pro Hanura dan Perindo. Surya Paloh Media Group (MetroTV) Partai Nasdem yg lagi gencar dengan Restorasi IndonesiaBakrie & Brothers (TVOne, ANTV, dll) Partai Golkar. Trans Corpora milik Chairul Tanjung (TransTV, Trans7, Jawa Pos Group, dll) dekat dengan SBY. Eddy kurnadi Sariaatmadja (SCTV dan Indosiar) dekat dengan Golkar.  TVRI satutunya televisi pemerintah yang kemudian GO Publik merubah wajah tampilan menjadi sedikit kritis terhadap pemerintah meski terdapat kekurang disana sini.

Satu-satunya grup media yang dinilai Merlyna Lim masih independen adalah Tempo. Tetapi sebetulnya kalau Merlyna teliti, Tempo juga tidak independen. Sebab pada pemilu 2009 lalu, pemilik grup itu, Goenawan Muhammad menjadi pendukung Wakil Presiden Boediono. Hubungan itu tetap mesra sampai sekarang. Sebagai imbalannya, Tempo menang tender iklan pengumuman tender seluruh proyek pemerintah yang sebelumnya dimenangkan Media Indonesia. Kini Goenawan Muhammad masuk atau paling tidak mendukung Partai SRI, sebuah partai yang akan mengusung Sri Mulyani menjadi Presiden 2014 mendatang.

Korporasi media dan hubungannya dengan partai politik dan penguasa ini, menurut Merlyna sungguh mengancam demokrasi. Sebab terjadi hegemoni informasi di sana. Berita-berita yang terkait dengan masalah yang membelit korporasi pemilik media tidak akan dibuka ke pulik. Dia memberi contoh kasus Lumpur Lapindo yang pemberitaannya kalah marak dari berita koin untuk Prita. Padahal, kasus Lumpur Lapindo itu sungguh dahsyat.

Pemilik media yang dekat dengan kekuasaan juga akan dengan gampang dikendalikan oleh penguasa. Kebobrokan pemerintah sulit terungkap ke publik karena media-media pun dibungkam.

Dengan kata lain, perselingkuhan antara korporasi media dengan penguasa partai politik akan sangat mengancam demokrasi di negeri ini. Proses menuju masyarakat komunikatif, meminjam bahasa Jurgen Habermas, sulit tercapai. Karena itu, menurut Merlyna, perlu ada media alternatif, seperti blog atau media sejenis itu dan media sosial.

Media-media kecil seperti ini akan bisa menyelamatkan demokrasi kalau bersatu padu “melawan” korporasi media untuk tetap menyampaikan fakta yang tidak diberitakan media yang sudah dikuasai korporasi tersebut. Dia memberi contoh, di Amerika Serikat, blog-blog jaringan warga hispanik mampu melengserkan pemimpin tertinggi CNN dari jabatannya menyusul pernyataan rasialisnya terhadap warga hispanik.

Tetapi untuk itu perlu ada sinergitas antara blog yang satu dengan yang lain dan perlu membangun jaringan seperti yang dilakukan warga hispanik AS itu. Hanya dengan begitu, media-media seperti ini bisa menyelamatkan demokrasi dari pembajakan para konglomerat-penguasa.

Atau cara lainnya adalah perlu aturan tegas dari pemerintah agar hak masyarakat untuk mendapatkan informasi apa pun tetap terjamin. Pemerintah, kata Merlyna, perlu membatasi korporasi media. Tetapi hal ini cukup sulit dilaksanakan karena penguasa juga perlu media untuk memelihara dan memoles citra pemerintahannya. Untuk itu dia harus berbaikan dengan para pemilik media. Pemerintah tidak mungkin membuat aturan keras yang membatasi penguasaan media.

Kalau itu yang terjadi, maka demokrasi yang dibangun dengan darah dan nyawa mahasiswa dan rakyat ini sedang melewati persimpangan jalan dan berada di tubir jurang. Itu sebabnya Merlyna memberi judul penelitiannya: At Crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia.

Rabu, 19 September 2012

Rekrut Mahasiswa Baru, LPT Buat Dosa Baru



Anggota LSBO Khalifah


Setiap pergantian tahun ajaran baru, para birokrasi LPT disibukkan dengan kegiatan mencari mahasiswa baru untuk menambah kuantitas lembaga perguruan tinggi yang ada. Tidak perduli walaupun pada kenyataannya banyak yang melakukan sosialisasi hanya sekedar untuk rekreasi belaka atau hanya sekedar mendapatkan honorisasi dari kegiatan tersebut, sehingga kebanyakan pada masalah-masalah seperti ini mahasiswa lama sering dan tidak sama sekali dilibatkan, alasannya pasti model "zaman batu", bahwa mahasiswa lama yang ikut dalam sosialisasi dalam segi pemberian honorisasi misalnya dimasukkan atau digolongkan pada golongan yang mana, golongan 'A', golongan 'B' atau golongan 'Syetan', terlepas dari semua itu, penulis berasumsi bahwa mahasiswa lama mempunyai andil yang sangat besar dalam perekrutan mahasiswa baru, sebab mahasiswa lama pergaulannya lebih luas di samping itu banyak dari sekian mereka yang membina badan tadzkir, club-club olahraga, lembaga seni, yang ada di SMU/SMA/MAN tersebut dibandingkan dengan tim sosialisasi yang hanya melibatkan para dosen, staf/karyawan yang sudah dimakan usia dan sudah dirindukan oleh cacing-cacing tanah yang telah merasa kelaparan. Pertanyaan sekarang adalah mengapa mahasiswa lama dalam proses sosialisasi tidak sama sekali dilibatkan? Apakah para birokrasi LPT tidak mau kalau mahasiswa lama mengobok-obok kejelekan dan keburukan kampusnya sendiri? Ataukah para birokrasi LPT takut kalau pamflef, brosur dan spanduk yang bertuliskan bahwa kampus mereka adalah "Unggul dan Berkualitas" serta janji-janji lainnya untuk dapat mempengaruhi mereka agar masuk di LPT akan bertentangan dengan pemikiran dari mahasiswa lama? Paradoksal di atas merupakan imbas dari LPT yang tidak percaya diri dengan kekurangan mereka miliki selama ini, sehingga dengan sewenang-wenangnya mereka berbuat hal-hal yang dianggap tidak sejalan dengan identitas LPT yang dipimpinnya, bahkan jika perlu main suap asalkan sang anak dapat masuk di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Agar tidak terjebak pada janji-janji yang sifatnya semu, maka sudah saatnya LPT mengubah sistem sosialisasi yang selama ini mereka tempuh dengan cara memaparkan apa adanya, tanpa ada pembohongan kepada publik, sehingga kita dapat terhindar dari 'lingkaran dosa' serta berusaha untuk memperbaiki sistem yang selama ini dilakukan untuk menjadikan para lulusannya menjadi lebih baik diantara yang terbaik, baik dari segi peningkatan kualitas dosen, sistem kurikulum, manajemen sehingga dengan hal ini masyarakat akan sadar dan paham bahwa LPT tersebut itu benar-benar berkualitas dan bergengsi, maka dengan sendirinya mereka akan memasukkan anak-anaknya untuk masuk dan berlomba-lomba ke LPT yang dianggapnya mewakili apa yang diharapkannya dan inilah salah satu cara untuk mensosialisasikan LPT tanpa menghambur-hamburkan dana yang mencapai puluhan juta tetapi hasilnya nihil. 

Namun perlu disadari menjadi seorang sarjana adalah dilema besar. Jika mereka tak mampu berbuat apa-apa, maka bukan hanya masyarakat yang mencela. LPT tempat mereka berproses, sebagai sarjanapun juga ikut menyalahkan. Benarkah, banyaknya sarjana kita sebagai penganggur adalah kesalahannya sendiri? Hal inilah yang jarang dipertanyakan. Sebab kampus sudah menjadi "tempat suci" yang disakralkan. Celakanya diperparah juga oleh media yang jarang menyoal pertanggungjawaban LPT. Ini bisa dimengerti. Karena mereka turut berkepentingan dengan suburnya bisnis LPT. Diduga, guyuran pemasangan iklan, di media, saat musim penerimaan mahasiswa baru, bisa bernilai ratusan juta hingga milliaran rupiah, bahkan dengan sombongnya mereka memasang slogan, pamflet, serta iklan dengan tulisan "Unggul Dan Berkualitas", hal itu menurut penulis sangat ideal jika LPT tersebut benar-benar mengerti dan paham akan maksud dari iklan tersebut, namun yang jadi masalah adalah ketika LPT tidak mengerti dan paham dengan maksud dari iklan tersebut, sehingga penulis dapat berasumsi bahwa hal ini merupakan "dosa bersama" yang dilakukan oleh sebuah LPT untuk menarik perhatian masyarakatnya. Kondisi tersebut tidak adil. Hal ini sungguh bertolakbelakang dengan rayuan dan janji-janji saat promosi untuk menarik calon peserta didik baru di LPT,. Kalau mau jujur. Tanpa banyak disadari, sebetulnya lembaga pendidikan tinggi mencetak sampah masyarakat. Seorang bergelar sarjana menjadi tidak berguna, ketika kebingungan menentukan perannya ditengah-tengah masyarakat. LPT terkesan tidak mau tahu dengan lulusannya. Yang banyak dilakukan, hanya mencatat alumninya yang sukses bekerja. Padahal seharusnya mereka berani bertanggungjawab dengan ketidakberhasilannya membuat para sarjana eksis ditengah masyarakat. Ketidakmampuan seorang lulusan LPT yang kini jumlahnya makin membengkak, sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh buruknya proses belajar, yang digunakan selama ini. Cukup susah untuk mendefinisikan apa saja yang menjadi penyebab utamanya. LPT, dengan segala cara, akan mempertahankan citranya tetap baik di tengah masyarakat. Semakin keras dipertanyakan kualitasnya, maka semakin hebat mereka mengelak. Tetapi ada satu jurus yang sulit untuk didebat dengan dalih apapun. Termasuk dalih tidak ilmiah, dan tidak akademis. Sebagaimana sering dijadikan penangkal, dari serangan kritik. Jika memang benar, LPT telah mendidik seseorang dengan berkualitas, beranikah mereka membuat perjanjian yang berkekuatan hukum? Alih-alih apabila ternyata lulusannya tidak sesuai, dengan janjinya saat promosi, akan sukarela digugat di pengadilan sekalipun. Olehnya sudah seyogyanya LPT memerlukan beberapa hal agar mereka dapat bersaing dalam perekrutan mahasiswa baru dan dapat menjadikan lulusannya bisa bersaing, diantaranya adalah:

Pertama, Pentingnya membuat perjanjian dengan calon siswa sebelum masuk ke LPT, akan benar-benar menjadi seleksi mana LPT yang sesungguhnya lebih berkualitas dalam mencetak sarjana. Sebab, LPT yang tidak bermutu proses belajar-mengajarnya, segera akan tersisih. Hal ini menuntut agar LPT segera mendapatkan sistem penentuan kualitas ala Badan Akreditasi Nasional (BAN), memang harus diakui penentuan kualitas dari BAN, hukumnya adalah Sunnah, namun perlu diingat bahwa banyak sarjana yang dihasilkan oleh sebuah LPT tidak diterima di dunia pasar kerja disebabkan oleh permintaan pasar yang menghendaki agar mereka menyertakan langsung sertificat yang dikeluarkan langsung oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Oleh sebab itu, sistem yang selama ini menjadi sebuah kebanggaan dan diterapkan oleh sebuah LPT perlu dikoreksi kembali. Untuk menentukan kualitas LPT tidak cukup dilihat, dari berapa jumlah pengajar bertitel S2 maupun S3 yang dimiliki. Kemudian perangkat fasilitas dan bangunan yang megah. Penelitian-penelitian yang meragukan akurasinya. Tentunya, akreditasi berdasarkan hal tersebut berpotensi menyesatkan serta semakin menjauhkan cita-cita LPT itu sendiri dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Termasuk konsekuensi bagi penyelenggara, untuk sukarela dituntut apabila tidak sesuai dengan promosi yang pernah dilakukan. Diantaranya, bersedia mengembalikan biaya pendidikan seratus persen selama proses pendidikan. Termasuk bila perlu dituntut dimuka pengadilan. 

Substansi apa yang dilakukan oleh LPT tersebut bisa menjadi bahan perenungan bersama. Kiranya, apabila tujuhpuluh persen saja para penyelenggara pendidikan dinegeri ini, termasuk LPT mampu membuat perjanjian yang berkonsekuensi hukum seperti itu, maka secara drastis pula kita akan melihat sarjana yang tidak berdaya menurun jumlahnya. Missi dan visi pendidikan LPT, seyogyanya, bukan hanya pemanis identitas saja. Tetapi perlu dituangkan secara riil mulai bentuk perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan program pendidikan yang jelas, terarah dan bertanggungjawab. 

Kedua, membuang jauh-jauh "doktrin sesat" bahwa mahasiswa yang akan masuk dan belajar diperguruan tinggi yang disosialisasikannya akan selamanya berhasil sebab lapangan pekerjaan sangat luas, ditinjau dari sisi psikologi hal ini tentunya akan sangat merugikan mahasiswa dan tenaga pengajar itu sendiri, sebab di samping mahasiswa akan semakin malas untuk memacu dirinya dalam pengembangan intelektualitasnya hal ini akan diperburuk lagi oleh keadaan para pengajar/dosen yang malas dalam mentransfer ilmunya kepada mahasiswa yang menjadi bimbingannya.

Ketiga, LPT sudah seyogyanya membuka diri dengan jaringan-jaringan yang dianggap relevan dengan pengembangan dan penunjang efesiensi proses belajar mengajar, sehingga akan tercipta suasana yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Serta membuka jaringan kerjasama dengan seluruh sekolah-sekolah yang ada dipermukaan bumi ini, sehingga dengan demikian pada saat perekrutan mahasiswa baru LPT tidak lagi menghambur-hamburkan dana tetapi hasilnya adalah nihil belaka.

Keempat, sudah saatnya LPT memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk dapat berkreasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya selama hal itu dapat menguntungkan bagi dirinya dan LPT itu sendiri, dan bukan sebaliknya "memeras dan memenjarakan" segala aktivitas mahasiswa dengan cara mengurangi nilai mahasiswa, mengklaim mahasiswa itu tidak mempunyai etika, bahkan lebih tidak manusiawi lagi sampai mengancam dan memukul mahasiswa yang tidak sejalan dan seirama dengan kebijakan yang diambil oleh LPT.

Berangkat dari beberapa kemungkinan di atas maka penulis percaya bahwa birokrasi LPT yang mengumbar janji-janji akan terhindar dari dosa baru dan dosa bersama pula, sebab apa yang mereka janjikan pada saat sosialisasi benar-benar dari kenyataan yang ada di LPT tersebut. Terlepas dari janji-janji yang terasa manis dibibir dan terasa pahit rasanya adalah sangat sulit untuk direalisasikan selama LPT masih bersifat dan membawa idealismenya yang mereka dapatkan dari "zaman batu" yang tidak lagi ada relevansinya dengan zaman sekarang, zaman ini memerlukan pemikiran yang lebih serius dan matang, bukan saatnya lagi sebuah kinerja dihargai dengan penggolongan honorisasi belaka tetapi yang perlu adalah bersama-sama menciptakan suasana bersifat educatif.

PENYAKIT ORGANISASI

Oleh : Irawan Lahay
Ketua LSBO Khalifah 2009-2010

Dalam dunia bisnis ada berbagai macam fenomena menarik. Ada pengusaha dan/atau perusahaan yang cenderung suka "bermimpi" dalam arti merumuskan tujuan perusahaan setinggi langit tanpa pernah tercapai. Sebaliknya, banyak pula yang terlalu menerima kenyataan, statis dan sangat khawatir terhadap adanya perubahan dan tidak pernah berani bermimpi! Sebenarnya fenomena ini sangat umum di Indonesia, bahkan mungkin mewakili sebagian besar wajah perusahaan Indonesia baik swasta, pemerintah atau pun BUMN. Itulah sebabnya mengapa lebih banyak kredit macet disebabkan oleh pengusaha-pengusaha besar dibandingkan pengusaha kecil. Itu sebabnya pula mengapa perekonomian Indonesia terpuruk dan tidak kunjung bangkit, padahal di negara Asia yang sama-sama terkena krisis ekonomi sudah berhasil melewati masa krisis tersebut bahkan tingkat pertumbuhan ekonominya sudah makin baik, contohnya Thailand dan Korea Selatan.   


Gejala
Menurut William A. Cohen (1993), seorang profesor dari California State University-Los Angeles, sebuah perusahaan atau organisasi dapat di padankan dengan pribadi individu. Seperti hanya kepribadian individu yang dapat mengalami gangguan, demikian juga organisasi. Jika organisasi itu terserang penyakit, maka orang-orang yang bekerja di dalamnya pasti akan terkena dampaknya secara langsung. Ada bermacam-macam gangguan mental yang dapat dialami oleh organisasi; dan tiap organisasi bisa mengalami gangguan yang berbeda. Beberapa gejala yang kelihatan di antaranya seperti ketiadaan struktur yang jelas dan pasti, tidak adanya suasana saling percaya, kebiasaan mudah memecat karyawan, kebiasaan suka menipu klien atau supplier, membohongi pelanggan dan suka ingkar janji, kelesuan yang dirasakan oleh hampir seluruh karyawan, banyaknya korupsi, membudayanya kolusi dan nepotisme, maraknya isu SARA di dalam organisasi, adanya perlakuan diskriminasi di antara karyawan, adanya kebiasaan menunda keputusan atau pekerjaan, sulitnya memperoleh komitmen atasan dan masih banyak gejala lainnya.   


Sebab dan Akibat
Banyak sekali hal yang dapat menjadi sumber penyakit dalam kehidupan organisasi. Menurut Kernberg, seorang profesor sekaligus psikiater ternama yang sangat dipengaruhi oleh aliran psikoanalisa, suatu organisasi bisa saja mengalami kemunduran karena organisasi tersebut mempunyai "racun" di dalamnya. Racun itu bisa berbentuk gangguan kepribadian yang dialami oleh pimpinan dan kemudian menjalar ke karyawan, bisa juga kebudayaan organisasi itu yang patologis atau kesalaham sistem baik itu sistem pemerintahan ataupun sistem intra organisasi.
Sementara itu, akibat dari penyakit atau gangguan yang dialami organisasi akan membawa pengaruh yang serius seperti:
·         Menghancurkan moral anggota
·         Menurunkan produktivitas aktifitas
·         Menurunkan kualitas yang dihasilkan oleh organisasi tersebut.
·         Menyakiti hati pihak-pihak yang berhubungan dengan organisasi
·         Membuat frustrasi anggota, terutama anggota potensial
·         Menyebabkan organisasi tersebut mengambil keputusan atau pun tindakan yang tidak rasional
·         Menaruh perhatian pada hal yang tidak relevan dengan orientasi organisasi tersebut.
·         Berpotensi menghancurkan potensi kepemimpinan yang dimiliki oleh organisasi
·         Menghancurkan hubungan baik dengan organisasi lain yang telah dibina selama bertahun-tahun


Tindakan
Banyak orang atau perusahaan melakukan kesalahan fatal dengan hanya memperbaiki keadaan yang tampak (gejala) dari permukaan tanpa mencari dan memahami latar belakang psikologis dari penyebabnya. Akibatnya, masalah yang sama terus-menerus terjadi bahkan tambah parah. Alangkah baiknya jika penanganan yang diberikan pada organisasi atau pun individu ini disesuaikan dengan jenis gangguannya. Karena tiap gangguan mempunyai karakteristik yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Dalam menangani masalah organisasi, pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan analisa terhadap keseluruhan komponen organisasi, mulai dari orangnya, sistem, struktur, budaya, dan komponen lainnya. Jika sudah ditemukan di mana akar masalahnya, maka harus segera diberi penanganan yang didesain khusus untuk permasalahan tersebut.

MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG BLOG LSBO KHALIFAH DALAM PROSES PERBAIKAN.........