HARLA 1 LSBO KHALIFAH

Pentas Seni Untuk Amal Panti Asuhan Di Kota Manado, Yang Dibuka Dengan Seminar Budaya dan Pameran Foto Pendidikan LSBO Khalifah

PENDIDIKAN DAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU

Foto Bersama Pengurus LSBO Khalifah dan Anggota Baru Setelah Melewati Malam Pengukuhan dan Renungan Di Pondok Pesantren Al-Khairaat Mapanget Manado.

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Lagi Asyik Nonton and Menyemangati Tim Futsal Divisi Olahraga LSBO Khalifah..Bersemangat....!!!!

PENTAS SENI AWAL TAHUN

Foto Bersama Anggota Lembaga Seni Buadaya dan Olahraga Khalifah Di Acara Pentas Seni Awal Tahun Perkuliahan STAIN Manado

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Setelah Mengurusi Kegiatan, Anggota Korps Putri Masih Sempat Berfoto Ria ...... Masih Tetap Semangat... Bravo Korps Putri...

TAHUN BARU ISLAM

Anggota Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Memeriahkan Acara Satu Muharram 1431H Dengan Mengikuti Pawai Keliling Kota Manado Sulawesi Utara

LSBO KHALIFAH

Kalau Kau Tidak Ingin Diganggu Jangan Kau Mengganggu...!!! Sebab Kami Tidak Mau Diganggu...!!! Jika Kau Akan Melakukan Kerusakan Di STAIN Manado, Maka Kau Berhadapan Dengan Kami...!!!

LAIN PERGI YANG LAIN DATANG

Foto Bersama Pasca Pemutihan Anggota LEmbaga Seni Budaya dan Olahraga LSBO Khalifah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Manado

Rabu, 19 September 2012

Tehnik Dasar Bermain Piano/Keyboard

Bagian 1

Mr. Noval L
Dewan Guru Divisi Musik LSBO Khalifah


Mohon maaf kepada teman2 dengan segala kerendahan hati saya mencoba berbagi informasi bagaimana sih cara belajar piano/keyboard?  Berikut ada beberapa tips mengenai tehnik dasar untuk belajar main piano/keyboard:

FINGERING (hand and finger forms, relaxation of arms & shoulders)
Latihan untuk fingering ini, ditujukan untuk supaya, kita sebagai musisi, khususnya pemain piano atau keyboard, posisi jari dan tangan kita saat bermain ada dalam posisi yang benar. Juga untuk bentuk jari-jari kita saat bermain di atas tuts piano atau keyboard ada dalam posisi sempurna. Latihan jari ini mencakup Tangga Nada dan Cadence.

TOUCHING (touch of the notes, legato-staccato, phrasing, dynamics and expression)

Latihan untuk touching ini ditujukan untuk supaya, kita sebagai musisi, khususnya pemain piano atau keyboard. Kita mengerti interpretasi kita dalam bermain music. Gak cuman yang sekedar bermain music, tapi music itu yang harus keluar dari hati kita. Kita mengetahui dimana kita harus bisa maen keras atau lembut. Bermain dengan ada tekanan atau nyambung atau putus-putus dan atau dengan aksen yang tepat. Ada dinamika, feeling dan ekspresi.


RHYTHM dan TEMPO
Latihan untuk rhythm and tempo ini ditujukan untuk supaya, kita sebagai musisi, ini mencakup untuk semua instrument. Baik sebagai pemain drums, bass, guitar, percussions atau juga piano dan keyboard. Kita perlu mengetahui harga notes, ketukan & rhythm pattern. Kita perlu tau juga tentang tempo yang benar.

Rhytmic dalam bermain music (comping). Ada soul atau groove dalam bermusic. Harus ada “nyawa” dalam kita bermain dalam 1 band. Kita harus tau juga tentang TIME SIGNATURE (lagu itu dimainkan dalam ketukan 2/4, ¾, 4/4, 3/8, 6/8 etc)

HARMONY (chords progression, voicing and accompaniment)
Latihan untuk harmony ini ditujukan untuk supaya kita bisa lebih kaya dalam mengembangkan pola chords yang kita pakai dalam sebuah lagu. Mengembangkan juga bunyi yang dihasilkan dari chords yang kita mainkan.

Dan juga untuk memperluas cara kita bermain dalam konteks kita mengiringi seorang penyanyi atau jemaat. Karena dengan kita bermain dalam harmonisasi yang bagus, maka akan tercipta suatu kesatuan yang baik. Dengan mempunyai pengetahuan harmoni yang baik, kita dapat membuat aransemen yang pasti bisa lebih enak. Mengetahui posisi kita sebagai musisi, lebih sebagai pengiring!

READING
Latihan ini lebih ditujukan untuk mereka yang belum bisa membaca not balok atau combo partitur. Diharapkan mereka di kemudian harinya bisa untuk membaca partitur not balok atau combo part. Mereka mengenal Treble Clef (kunci G) dan Bass Clef (kunci F). Mereka mengetahui tentang KEY SIGNATURE (ada berapa sharp (#) atau flat (b) lagu itu dimainkan). Dengan kita melihat tanda-tanda tersebut dengan sendirinya kita sudah tau kalau lagu itu dimainkan di tangga nada apa. Jelas itu akan sangat mempermudah kita dalam bermusik.


Sabtu, 15 September 2012

MENGENAL FILSAFAT PENDIDIKAN PAULO FREIRE : ANTARA BANKING CONCEPT OF EDUCATION, PROBLEM POSING METHOD,DAN PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA

Oleh :


PENDAHULUAN

Paulo Freire adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen — baik dari kalangan Protestan maupun Katolik— yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Latar belakang sosial budaya dari pemikiran Freire yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus untuk pendidikan Kristen di Indonesia.

Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan filsafat pendidikan Freire. Untuk itu akan dipaparkan latar belakang kehidupannya dan pandangannya tentang pendidikan. Penulis akan memaparkan secara garis besar alur pemikiran pendidikan Freire untuk menampilkan “gambar besar” bagi pembaca yang belum terlalu mengenalnya. Selanjutnya, secara khusus penulis akan menyoroti dikotomi antara “Banking Concept of Education” dan “Problem Posing Method” yang tampaknya menjadi salah satu pemikirannya yang khas. Berikutnya, penulis akan mencoba berdialog secara kritis dengan pemikiran Freire untuk melihat kemungkinan-kemungkinan sumbangsihnya yang aplikatif dan kontekstual untuk pendidikan Kristen di Indonesia.

SIAPAKAH PAULO FREIRE?

Freire dilahirkan di Recife, Brasil pada 19 September 1921. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang oleh karena keadaan ekonomi nasional yang buruk saat itu, membuatnya juga merasakan apa artinya kekurangan dan kelaparan. Ia mempunyai latar belakang pendidikan di bidang hukum dan sempat berkarier dalam jangka waktu yang pendek sebagai seorang pengacara. Kemudian ia menjadi guru bahasa Portugis selama 6 tahun (1941-1947). Sekitar tahun 1944 ia menikah dengan seorang guru bernama Elza Maia Costa Olievera. Pernikahan inilah yang memantapkan pergeseran interesnya dari bidang hukum ke bidang pendidikan, sebagaimana diakuinya sendiri, “. . . precisely after my marriage when I started to have a systematic interest in educational problems.” Tahun 1959, Freire menyerahkan disertasi doktoral di Universitas Recife dengan judul Educacao e Atualidade Brasileira (Pendidikan dan Keadaan Masa Kini di Brasil). 

Di kemudian hari, ia bahkan diangkat sebagai guru besar bidang sejarah dan filsafat pendidikan di universitas tersebut. Pada tahun 1961-1964, ia menjadi Direktur Pertama dari Departemen Perluasan Kebudayaan Universitas Recife. Karena keberhasilannya dalam program pemberantasan buta huruf di daerah Angicos, Rio Grande do Norte, ia diangkat sebagai Presiden dari Komisi Nasional untuk Kebudayaan Populer. Pada tahun 1964 terjadi kudeta militer di Brasil. Rezim yang berkuasa saat itu menganggap Freire seorang tokoh yang berbahaya, karena itu mereka menahannya selama tujuh puluh hari sebelum akhirnya “mempersilakan” Freire untuk meninggalkan negeri itu. Ia memulai masa lima belas tahun pembuangannya dan tinggal untuk sementara waktu di Bolivia. Dari Bolivia ia pindah ke Chili dan berkerja selama lima tahun untuk organisasi internasional Christian Democratic Agrarian Reform Movement. 

Dalam masa lima tahun ini, ia dianggap sangat berjasa menghantar Chili menjadi satu dari lima negara terbaik di dunia yang diakui UNESCO sukses dalam memberantas buta huruf. Pada tahun 1969 ia sempat menjadi visiting professor di Universitas Harvard. Antara tahun 1969-1979, ia pindah ke Jenewa dan menjadi penasihat khusus bidang pendidikan bagi Dewan Gereja Dunia. Pada akhir tahun 1960-an inilah ia menulis salah satu bukunya yang paling terkenal, Pedagogy of the Oppressed. Pada tahun 1979, Freire kembali ke Brasil dan menempati posisi penting di Universitas Sao Paulo. Tahun 1988 ia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan untuk kota Sao Paulo, sebuah posisi yang memberinya tanggung jawab untuk mereformasi dua pertiga dari seluruh sekolah negeri yang ada. Freire meninggal pada 2 Mei 1997, dalam usia 75, akibat penyakit jantung. Selama hidupnya, ia menerima beberapa gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas di seluruh dunia. Ia juga menerima beberapa penghargaan, di antaranya: UNESCO’s Peace Prize tahun 1987, dan dari The Association of Christian Educators of the United States sebagai The Outstanding Christian Educator, pada tahun 1985. 

Di Indonesia, persebaran pemikiran Freire dapat dilihat dari begitu banyaknya karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terutama setelah tumbangnya Orde Baru. Buku-bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain: Pendidikan yang Membebaskan; Belajar Bertanya; Politik Pendidikan: Kebudayaan Kekuasaan dan Pembebasan; Pendidikan Kaum Tertindas; Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan; Dialog Bareng Paulo Freire: Sekolah Kapitalisme yang Licik; dan Pendidikan Sebagai Proses: Surat Menyurat Pedagogis Dengan Para Pendidik Guinea Bissau.

FILSAFAT PENDIDIKAN FREIRE

Secara filosofis, pemikiran Freire banyak dipengaruhi oleh aliran pemikiran Fenomenologi, Personalisme, Eksistensialisme, dan Marxisme. Sebagai tokoh pendidikan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama Rekonstruksionisme. Keyakinan utama seorang Rekonstruksionis ialah, “. . . hold the goal of building an ideal and just social order. Efforts are directed toward establishment of a practical utopia where persons are liberated to be and become all intended to be.”George R. Knight mendaftarkan beberapa prinsip utama dari Rekonstruksionisme,9 yang intinya adalah: pertama, peradaban dunia sedang berada dalam krisis di mana solusi efektifnya adalah penciptaan suatu tatanan sosial yang menyeluruh. Kedua, pendidikan adalah salah satu agen utama untuk melakukan rekonstruksi terhadap tatanan sosial. Oleh karenanya, seorang pendidik Rekonstruksionis harus secara aktif mendidik demi perubahan sosial. Ketiga, metode pengajaran harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokratis yang bertujuan untuk mengenali dan menjawab tantangan sosial yang ada. Dari ketiga prinsip ini dapat diketahui bahwa di dalam Rekonstruksionisme peranan pendidikan sekolah bukanlah sebagai transmitor (penyampai) kebudayaan yang bersifat pasif —sebagaimana diyakini oleh aliran-aliran yang lebih tradisional— tetapi sebagai agen yang menjadi pionir yang aktif dalam melakukan reformasi sosial. Hal ini terlihat secara jelas dalam pemikiran Freire.

Menurut Freire, tujuan utama dari pendidikan adalah membuka mata peserta didik guna menyadari realitas ketertindasannya untuk kemudian bertindak melakukan transformasi sosial. Kegiatan untuk menyadarkan peserta didik tentang realita ketertindasannya ini ia sebut sebagai konsientasi. Konsientasi adalah pemahaman mengenai keadaan nyata yang sedang dialami peserta didik. Lebih lanjut, Daniel Schipani menjelaskan bahwa konsientasi dalam pemahaman Freire adalah : . . . denotes an integrated process of liberative learning and teaching as well as personal and societal transformation. Conscientization thus names the process of emerging critical consciousness whereby people become aware of the historical forces that shape their lives as well as their potential for freedom and creativity; the term also connotes the actual movement toward liberation and human emergence in persons, communities, and societies.

Konsientasi bertujuan untuk “membongkar” apa yang disebut oleh Freire sebagai “kebudayaan diam.” “Kebudayaan diam” adalah suatu kondisi di mana masyarakat dibuat tunduk dan taat sedemikian rupa oleh penguasa, sehingga masyarakat tidak bisa atau berani mempertanyakan keberadaannya, dan pada akhirnya cenderung menerima keberadaan itu secara fatalistis. Dalam kerangka pemikiran seperti di atas tidak mengherankan bahwa bagi Freire, pendidikan senantiasa merupakan tindakan politik, baik untuk mempertahankan status quo ataupun untuk menciptakan perubahan sosial. Menurutnya, kedua  kecenderungan tersebut terlihat dengan jelas melalui pengamatan yang seksama terhadap metode belajar mengajar di dalam kelas. Mereka yang menggunakan pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan status quo, melakukannya di dalam kelas dengan menggunakan metode pendidikan yang ia sebut sebagai “banking concept of education.” Sedangkan mereka yang meyakini bahwa pendidikan adalah praksis pembebasan, menurut Freire, akan menggunakan apa yang disebutnya sebagai “problem posing method.”

BANKING CONCEPT OF EDUCATION

Freire mengecam metode belajar mengajar yang sering dijumpainya di dalam kelas-kelas yang ia sebut sebagai “banking concept of education” (BCE). BCE inilah yang menurutnya telah menjadi alat untuk “menindas” kesadaran akan realitas yang sejati dan menyebabkan seseorang menjadi pasif dan menerima begitu saja keberadaannya. Secara mendasar apa yang terjadi pada BCE adalah, “Education thus become an act of depositing, in which the students are depositories and the teacher is the depositor.”11 Menurut Freire, BCE secara fundamental mempunyai karakter naratif, terjadi pola di mana subjek (guru) berbicara dan objek (murid) mendengarkan dengan sabar dan seksama. Metode belajar mengajar yang secara umum digunakan inilah yang menurutnya tidak sehat dan “menindas,” karena melalui metode ini yang terjadi adalah, “Education is suffering from narration sickness.” Menurut Freire, setidaknya terdapat tiga asumsi —yang menurutnya tidak tepat— yang melatarbelakangi BCE. Pertama, pemahaman yang keliru tentang manusia sebagai objek dan bukan sebagai subjek yang bertindak. Kedua, adanya dikotomi antara manusia dan dunia: seorang manusia semata-mata ada di dunia dan bukan bersama dengan dunia atau manusia lainnya; seorang manusia hanyalah penonton dan bukan re-kreator. Ketiga, manusia adalah makhluk hidup yang dapat diatur dan dikuasai sepenuhnya.

Asumsi-asumsi inilah yang diterjemahkan ke dalam tindakan belajar mengajar di kelas. Menurut BCE, guru berperan penuh dalam memilih dan menentukan bahan yang akan diajarkan, sedangkan murid harus beradaptasi dengan ketentuan sang guru serta berperan untuk menghafalkan bahan-bahan tersebut dengan seksama. Guru adalah sosok yang mempunyai pengetahuan sedangkan murid tidak tahu apa-apa, dan belajar mengajar adalah proses penganugerahan pengetahuan dari guru kepada murid. Hubungan guru-murid adalah hubungan hierarkikal dan bukan dialogikal. Dari sisi materi pengajaran, metode ini meyakini bahwa realitas adalah statis, terbagi-bagi dan dapat diprediksi. Apa yang akan dihasilkan oleh BCE? Menurut Freire, BCE tidak akan mendorong siswa untuk secara kritis mempertimbangkan realitas. Murid hanya akan menjadi penerima yang pasif dari realitas yang diberikan, tanpa pernah bisa mempertanyakan kebenaran atau kebergunaan realitas yang diajarkan kepada dirinya. Yang disebut keberhasilan dalam metode ini adalah ketika murid telah menghafalkan dengan baik semua pengetahuan yang telah didepositokan ke dalam dirinya. Sehingga, murid yang baik adalah murid yang dapat beradaptasi dengan baik dengan realita yang berada di sekelilingya, karena manusia semacam inilah yang “cocok” dengan dunia.

PROBLEM POSING METHOD

Sebagai lawan dari BCE, Freire memperkenalkan apa yang disebutnya “Problem Posing Method” (PPM), yaitu metode pendidikan yang tidak “menindas” dan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan realitas. PPM didasarkan atas asumsi, “. . . adopting . . . a concept of men as a conscious beings and consciousness as consciousness intent upon the world.”14 Bukan hanya itu, tetapi juga, “. . . affirms men as beings in the process of becoming—as unfinished, uncompleted beings in and with a likewise unfinished reality.” Implementasi dari asumsi-asumsi ini terlihat dalam pola interaksi yang diharapkan terjadi di dalam kelas. Menurut Freire, hubungan yang ideal antara guru dan murid bukanlah hierarkikal sebagaimana dalam BCE, tetapi merupakan hubungan dialogikal. Melalui hubungan yang bersifat dialogikal, “. . . the teacher-of-the-students and the students-of the teacher cease to exist and a new term emerges: teacher student with students-teachers.”16 Jadi, guru bukan hanya semata-mata sosok tunggal yang mengajar, tetapi juga sosok yang diajar dalam proses dialog dengan murid ; sementara murid bukan hanya diajar, tetapi pada saat yang sama juga mengajar. Murid bukan hanya pendengar yang semata-mata patuh, tetapi juga rekan penyelidik yang kritis dalam dialog bersama guru. Guru bertugas mengedepankan suatu materi di hadapan murid-muridnya untuk meminta pertimbangan mereka tentang materi tersebut. Guru mempertimbangkan ulang materi ketika murid-murid mengekspresikan perspektif mereka tentang materi tersebut.

Hasil yang diharapkan dari PPM adalah, “Students, as they are increasingly posed with problems relating to themselves in the world and with the world, will feel increasingly challenged and obliged to response that challenge.” Murid diharapkan tidak demikian saja menerima keberadaannya, tetapi berani untuk secara kritis mempertanyakan keberadaannya, bahkan mengubahnya. PPM dianggap berhasil ketika murid tidak menjadi penghafal informasi, tetapi ketika ia tahu dengan kritis informasi yang dimilikinya, apa kaitan informasi itu dengan dirinya, serta bagaimana memanfaatkannya untuk melakukan suatu perubahan.

TINJAUAN TERHADAP FILSAFAT PENDIDIKAN FREIRE DARI PERSPEKTIF INJILI

Secara mendasar kerangka pemikiran Freire yang bercorak antroposentris berbanding terbalik dengan perspektif Kristen yang bersifat teosentris. Perspektif Kristen yang teosentris melihat bahwa realitas berpusat pada Allah dan bukan pada manusia; pewahyuan bersifat lebih otoritatif daripada pengalaman subjektif manusia; dan nilai dinyatakan oleh Allah sendiri, bukan dipilih oleh manusia.18 Kritik utama terhadap pendidikan yang bercorak humanistik — termasuk di dalamnya, Rekonstruksionisme— dari perspektif Kristen adalah penekanan yang terlalu optimistik terhadap natur dan kemampuan manusia untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik bagi kemasyarakatan. Perspektif Kristen meyakini bahwa Allah sendirilah yang pada akhirnya dapat dan mampu menciptakan suatu tatanan yang sangat baik mengenai kemasyarakatan. Manusia di dalam kapasitasnya sendiri tidak mungkin dapat menciptakan suatu tatanan sosial, karena di dalam diri manusia terus menerus terjadi pergumulan tiada henti antara natur yang saling bertentangan: natur untuk mengasihi Allah dan juga natur untuk mengikuti kecenderungan berdosa. Bagaimana mungkin manusia, yang di dalam dirinya sendiri pun sering kali mengikuti kecenderungan untuk berdosa, mampu menciptakan suatu tatanan sosial kemasyarakatan yang penuh keadilan dan kebenaran?

Para pakar pendidikan Kristen Injili, seperti Robert W. Pazmiño, menilai bahwa titik tolak Freire adalah situasi kontekstual dan bukan teks (Alkitab). Akibatnya, dalam pemikiran Freire terdapat beberapa pemikiran khas Kristen yang ia “abaikan” seperti: natur keberdosaan manusia, peranan Roh Kudus dalam diri manusia dan pemberitaan Injil sebagai tugas orang percaya. Mengingat hal-hal tersebut, tidak mengherankan apabila dari perspektif Kristen, menurut Bennie Godwin, “Freire’s theory, epistemology, and axiology are not fully developed.” Menurut pengamat lainnya, berdasarkan salah satu karya Freire yang terakhir, Pedagogy of the Heart, sebenarnya ajaran Kristenlah yang menjadi dasar dalam pemikiran pendidikan Freire. Simak penuturan Clarence Joldersma berikut :

The central role of a Christian faith in Freire’s pedagogy and social critique is certainly born out in one of his last publications, Pedagogy of the Heart (1988). At the end of that work Freire reflects on the Christian vision that has motivated him throughout his life. His overall message of hope for the millions of people that are oppressed around the world has been, in his own mind, unmistakably centered in his own Christian faith.

Memang dalam bukunya yang terakhir Freire banyak merefleksikan tulisan-tulisannya yang terdahulu dari perspektif Kristen. Ia banyak berbicara tentang Tuhan dalam relasinya dengan manusia, sesuatu yang agak tidak biasa di dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Salah satu contoh yang jelas adalah ketika ia menulis, This is how I have always understood God—a presence in history that does not preclude me from making history, but rather push me toward world transformation, which makes it possible to restore humanity of those who exploit and of the weak.

Agaknya perlu ditambahkan sedikit catatan untuk pemikiran Freire tentang BCE dan PPM seperti yang telah dipaparkan di atas. Dari pemaparan di atas tampak kesan yang kuat bahwa secara tegas Freire memilah dan membedakan, bahkan mempertentangkan secara mutlak kedua metode ini. BCE dilihat semata-mata sebagai alat penindasan dan PPM sebagai alat pembebasan. Sebenarnya hubungan antara kedua metode ini dapat dilihat secara lebih dialektis. BCE bukan sama sekali tidak berharga mengingat adanya pendidikan tertentu yang mengharuskan kita menghafal data, teori ataupun pendekatan tertentu yang telah dibangun oleh para ahli terdahulu. Dalam batas-batas tertentu BCE tetap bisa memberikan sumbangsih yang berharga, misalnya : bagaimana seorang murid dapat mengkritik suatu teori tertentu, apabila murid itu sendiri tidak mau mengerti dan memahami (termasuk di dalamnya menghafal) pokok–pokok dari teori tersebut?

SUMBANGSIH PEMIKIRAN FREIRE BAGI PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA

Titik tolak pemikiran Freire yang cenderung lebih bercorak antroposentris memang berbanding terbalik dengan titik tolak pendidikan Kristen yang teosentris. Namun hal ini tidak menutup kenyataan adanya sumbangsih Freire terhadap pendidikan Kristen. Berikut ini adalah sumbangsih pemikirannya bagi pendidikan Kristen. Pertama, filsafat pendidikan Freire berusaha menolak dikotomi antara pengetahuan dan praksis. Menurutnya, kegagalan dalam praksis dapat dikembalikan kepada kegagalan ideologi. Pengetahuan yang tidak sanggup menggerakkan tangan dan kaki untuk bertindak bukanlah pengetahuan dalam arti yang sesungguhnya dan sepenuhnya. Berbeda dengan corak pendidikan gereja yang cenderung mengasumsikan bahwa orang yang sudah tahu (berpengetahuan) akan secara otomatis bertindak, problem posing method menggunakan praksis sebagai penilai atas kualitas pengetahuan. Sesungguhnya, dikotomi antara pengetahuan dan praksis tidak dapat dipertahankan secara utuh dan penuh.

Dalam pendidikan Kristen yang dilakukan oleh gereja-gereja yang “bernafas” Injili boleh dikatakan masih memberikan tekanan yang cenderung mutlak pada BCE. Guru bertugas hanya menyampaikan suatu ajaran (doktrin denominasinya) tanpa mendialogkan dengan peserta didik bagaimana mengaplikasikan ajaran itu secara real dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sering kali guru menganggap tugasnya selesai ketika ia telah menyampaikan suatu ajaran, dan sama sekali tidak menunjukkan relevansi pelajaran itu dengan kehidupan sehari-hari. Suasana pengajarannya pun sering kali menjadi satu arah dan cenderung “mematikan” kreativitas berpikir. Hal ini terlihat dari tidak simpatiknya respons terhadap murid yang berani bertanya atau mempertanyakan ajaran tersebut. Sementara itu, sistem evaluasi yang dilakukan cenderung bersifat kognitif, berkisar pada hafalan terhadap ajaran-ajaran dasar seperti Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli. Tidak mengherankan apabila terdengar pertanyaan-pertanyaan yang terus menjadi “lagu lama” di gereja, seperti, “Ia kan sudah dikatekisasi, kok kelakuannya masih (buruk) seperti itu?” Menjawab pertanyaan seperti itu, para pendidik di gereja pun berdendang, “Semuanya kembali ke setiap pribadi, tugas kami hanya mengajar (baca: menyampaikan informasi).” Para pendidik di gereja sudah seharusnya memikirkan efektivitas kelas-kelas pembinaan yang biasa dilakukan selama ini. Gereja perlu memikirkan kelas-kelas pembinaan yang sifatnya lebih dialogis dalam hubungan antara guru dan murid. Selain itu, kelas-kelas kecil yang interaktif seperti kelompok sel atau kelompok tumbuh bersama nampaknya menjanjikan “atmosfer” yang lebih dialogis dibanding kelaskelas besar. Tentu dengan ditunjang oleh guru yang memang siap untuk berdialog; guru yang siap untuk sekaligus menjadi murid, dan murid yang juga siap untuk secara terbuka membagikan pandangannya. Kedua, filsafat pendidikan Freire berusaha melihat manusia dan kemanusiaannya secara utuh. Terdapat kecenderungan sebagian gereja untuk menilai dan melihat manusia secara parsial, misalnya dengan menggunakan istilah “jiwa yang terhilang.” Dengan demikian, seolaholah manusia hanya memiliki arti di dalam keberadaannya sebagai makhluk rohani yang membutuhkan keselamatan “di sana” saja. Konsekuensinya, tugas pelayanan gereja dianggap selesai ketika manusia sudah mendapatkan kepastian tentang tempatnya “di sana.” Filsafat pendidikan Freire berusaha untuk melihat manusia di dalam pergumulannya di sini dan sekarang. Dengan tidak menafikan kebutuhan manusia akan hal yang di sana dan nanti, pergumulan di sini dan sekarang juga adalah sebuah pergumulan yang perlu secara serius ditanggapi untuk dapat melihat manusia secara utuh.

Untuk dapat menghadapi pergumulan di sini dan sekarang, gereja nampaknya perlu kembali memikirkan ulang dan meng-update bahanbahan pengajarannya. Sebenarnya agak mengherankan apabila ada gereja di abad ke-21 ini yang masih merasa cukup dengan buku pengajaran yang ditulis pada abad ke-18, misalnya Katekismus Heidelberg, tanpa ada usaha sedikit pun untuk membuat bahan tersebut up to date.

Padahal jelas sekali bahwa dari segi waktu saja nampak bahan itu sudah sedemikian tertinggal, belum terhitung dari segi perbedaan latar belakang sosial budaya penulis buku tersebut dan konteks kekinian di Indonesia. Tentu saja materi-materi seperti: kehidupan berdemokrasi, kemiskinan, hak asasi manusia dan ekologi, tidak akan dijumpai di Katekismus Heilderberg, karena memang konteks pergumulannya berbeda. Alihalih melakukan usaha untuk membuat bahan tambahan sebagai pelengkap bahan katekisasinya, gereja cenderung bersifat sakralistik terhadap warisan pengajarannya.

Ketiga, filsafat pendidikan Freire berusaha untuk menempatkan manusia sebagai subjek dan bukan objek di dalam dunia. Pendidikan ini bersifat optimistis terhadap keberadaan manusia sebagai subjek yang mampu bertindak untuk mengubah dunianya. Manusia bukanlah objek dunia sebagaimana diyakini oleh agama yang fatalis, tetapi manusia adalah subjek yang bertindak di dalam dunia. Realita dunia ini bukanlah suatu realita yang harus diterima begitu saja dengan memberikan labellabel keagamaan tertentu, misalnya: dunia menderita akibat dosa, dan manusia juga menderita akibat dari dosa. Realita dunia adalah untuk dihidupi dan diubah menjadi lebih baik. Realita pengaruh dosa terhadap manusia dan kemanusiaan adalah suatu fakta yang harus diperjuangkan untuk diperbaiki dan bukan diterima mentah-mentah begitu saja, atau bahkan “dihindari.” Di dalam sebagian aliran kekristenan nampaknya ada kecenderungan untuk melihat ibadah sebagai sarana untuk “melarikan diri” dari dunia yang ada. Ibadah yang mampu “menggelitik” emosi akan dipadati oleh pengunjung. Jemaat pun akhirnya akan menghadiri ibadah dengan harapan akan mendapatkan “lawatan Allah” entah dalam bentuk-bentuk yang disebut sebagai “tumbang di dalam roh,” “tertawa kudus” ataupun “menari di dalam roh”. Model ibadah seperti ini —yang secara tidak langsung juga merupakan salah satu bentuk pengajaran— tentu saja tidak akan menghasilkan jemaat yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, tetapi hanya akan menghasilkan orang-orang yang gemar “melarikan diri” dari pergumulan hidup yang nyata di dunia. Herannya, di tengah segala pergumulan yang dihadapi bangsa Indonesia, baik orang Kristen maupun agama lain, masih ada juga gereja yang menuliskan visimisi bergerejanya kurang lebih demikian: mempersiapkan jemaat untuk masuk surga. Betapa tidak relevan dan tidak sensitif.

Gereja nampaknya perlu untuk kembali “membaca,” merenungkan dan bertindak sebagai respons penugasan dari Kepala Gereja ke dalam dirinya. Yesus sang Kepala Gereja mengutus gereja untuk dunia (Yoh. 17:18). Hal ini berarti gereja sudah semestinya ada dan bergumul bersama, bahkan memberikan pengaruh yang baik (garam dan terang) di dalam dunia yang penuh dengan masalah ini. Bukannya menjadi semakin eksklusif dan cenderung “melarikan diri” sebagai akibat dari penekanan yang tidak imbang di dalam pengajarannya.

PENUTUP

Pada akhirnya, tujuan pendidikan Kristen di gereja maupun lembaga lainnya adalah guna mempersiapkan umat Kristen Indonesia untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang murid Kristus. Menjadi umat Kristen Indonesia (bukan sekadar di Indonesia) mengimplikasikan adanya suatu tantangan yang khas dan unik yang harus digumuli setiap orang Kristen. Salah satu aspek dari tantangan itu adalah bagaimana mewujudkan suatu partisipasi yang nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk mewujudkan hal ini, filsafat pendidikan Freire, seperti yang telah dipaparkan di atas, dapat menjadi salah satu sumbangan pemikiran berharga yang patut direnungkan. Sebenarnya, apa sih yang akan terjadi seandainya pendidikan di gereja atau lembaga Kristen lainnya gagal atau malah sama sekali tidak berperan dalam “menjadikan” umat Kristen Indonesia berpartisipasi secara nyata di tengah bangsa ini? Untuk menggambarkan apa yang telah dan sedang, serta mungkin akan terjadi, kecemasan Eka Darmaputera berikut ini patut direnungkan : . . . kelumpuhan ini sesungguhnya menyangkut seluruh aspek kehadiran kita di tengah-tengah masyarakat. Yaitu ketika makna kehadiran kita kian tidak dirasakan, dan suara kita semakin nyaris tak terdengar. Atau kalaupun kehadiran kita itu dirasakan, orang tidak memperdulikannya. Dan kalaupun suara kita terdengar juga, orang tidak merasa perlu mendengarnya. Kehadiran kita semakin dilecehkan dan diremehkan. Kita dibiarkan seperti anjing-anjing menggonggong sementara kafilah terus berjalan. Atau anjing-anjing buduk, yang dikejar-kejar dan dilempar-lempar —just for fun. Amat menyakitkan

1. James E. Reed dan Ronnie Prevost, A History of Christian Education (Nashville:Broadman & Holman, 1993) 350-360. Freire sendiri adalah penganut agama Katolik, namanya disejajarkan dengan: Findley B. Edge, D. Campbell Wyckoff, Sara Little,James Michael Lee, John H. Westerhoff III, Gabriel Moran, James Fowler dan Thomas G. Groome. Groome bahkan secara terang-terangan mengakui pengaruh Freire yang sangat kuat di dalam dirinya.

2 . Pemaparan bagian ini disarikan dari beberapa artikel: “People You Should Know:Freire,” [http://nlu.nl.edu/ace/Resources/Freire.html]; Bentley Leslie, “A Brief Biography,” [http://www.unomaha.edu/~pto/paulo.htm], Moachir Gadotti dan Carlos Alberto Torres,” Paulo Freire: A Homage,” [http://nlu.nl.edu/ace/Homage.html].

3. Sebagaimana dikutip dalam “1. Who is Paulo Freire?” [http://www.nlu.nl.edu/ace/resources/ documents/section1.html].

4. Freire menulis dalam bahasa Portugis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 1970). Untuk tulisan ini penulis mengambil terbitan Seabury cetakan ke-12, tanpa tahun. Ada perbedaan penomoran halaman antara terbitan Continuum dan Seabury; edisi bahasa Indonesianya diberi judul Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: LP3ES, 1985).

5. Salah satu pengantar ringkas terbaik untuk memahami pemikiran dan istilahistilah yang sering digunakan oleh Freire adalah tulisan Tom Heaney, ”Issues in Freirean Pedagogy,” [http://nlu.nl.edu/ace/Resources/Documents/FreireIssues.html].

6. Robert W. Pazmiño, Foundational Issues in Christian Education: An Introductionin Evangelical Perspective (Grand Rapids: Baker, 1988) 68.

7. Ozmon & Craver, Philosophical Foundations of Educations (Colombus: Merril,1986) 135-163.

8. Pazmiño, Foundational Issues 109.

9. George R. Knight, Philosophy of Education (Michigan: Andrew University Press, 1989) 116-119.

10. Daniel Schipani, “Liberation Theology and Religious Education” dalam Theologies of Religious Education (ed. Randolph Crumph Miller; Birmingham: Religious Education, 1996) 307-308.

Kamis, 13 September 2012

PERILAKU ORGANISASI “Konsep Dasar dan Aplikasi – Persepsi dan Komunisasi”

Oleh :
NH. Dini Paputungan
Korps Putri LSBO Khalifah


Ini adalah sedikit ilmu yang saya dapatkan dari TC LSBO Khalifah pada materi Keorganisasian.

Definisi PERILAKU ORGANISASI :

Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).

Perilaku organisasi juga dikenal sebagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi.

Tinjauan umum

Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.

Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

Sejarah

Meskipun studi ini menelusuri akarnya kepada Max Weber dan para pakar yang sebelumnya, studi organisasi biasanya dianggap baru dimulai sebagai disiplin akademik bersamaan dengan munculnya manajemen ilmiah pada tahun 1890-an, dengan Taylorisme yang mewakili puncak dari gerakan ini. Para tokoh manajemen ilmiah berpendapat bahwa rasionalisasi terhadap organisasi dengan rangkaian instruksi dan studi tentang gerak-waktu akan menyebabkan peningkatan produktivitas. Studi tentang berbagai sistem kompensasi pun dilakukan.

Setelah Perang Dunia I, fokus dari studi organisasi bergeser kepada analisis tentang bagaimana faktor-faktor manusia dan psikologi mempengaruhi organisasi. Ini adalah transformasi yang didorong oleh penemuan tentang Dampak Hawthorne. Gerakan hubungan antar manusia ini lebih terpusat pada tim, motivasi, dan aktualisasi tujuan-tujuan individu di dalam organisasi.

Para pakar terkemuka pada tahap awal ini mencakup:
Chester Barnard
Henri Fayol
Mary Parker Follett
Frederick Herzberg
Abraham Maslow
David McClelland
Victor Vroom

Perang Dunia II menghasilkan pergeseran lebih lanjut dari bidang ini, ketika penemuan logistik besar-besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya minat yang baru terhadap sistem dan pendekatan rasionalistik terhadap studi organisasi.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial dan tekanan dalam studi akademiknya dipusatkan pada penelitian kuantitatif.
Sejak tahun 1980-an, penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.

Keadaan bidang studi ini sekarang

Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis, meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan ekonomi industri pula.

Bidang ini sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dengan para praktisi seperti Peter Drucker dan Peter Senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikritik sebagai suatu bidang studi karena asumsi-asumsinya yang etnosentris dan pro-kapitalis (lihat Studi Manajemen Kritis)

PERSEPSI DAN KOMUNIKASI

Dua istilah PERSEPSI dan komunikasi ini amat erat dan penting sekali diketahui guna memahami ilmu perilaku ini. Komunikasi terjadi jika seseorang ingin menyampaikan informasi kepada orang lain. Dan komunikasi tersebut dapat berjalan baik dan tepat jika penyampai informasi tadi menyampaikannya dengan patut, dan penerima informasi menerimanya tidak dalam bentuk distorsi.

Jika dalam proses penyampaian informasi tidak patut dan terjadi distorsi, maka komunikasi semacam ini dapat dikatakan komunikasi yang tidak efektif atau mengalami kegagalan. Kegagalan berkomunikasi bisa terjadi karena banyak hambatan-hambatan. Salah satu hambatan yang ditimbulkan dari unsur manusia yang terlibat didalamnya ialah karena persepsi yang berbeda.

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan yang menghasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dari kenyataannya.

Subproses persepsi dapat terdiri dari suatu situasi yang hadir pada se-seorang. Disini seseorang tersebut menghadapi suatu kenyataan lingkungan yang harus dilihat dan diartikan. Subproses berikutnya adalah registrasi, interpretasi, dan umpan balik. Dengan demikian setelah seseorang mengetahui keadaan lingkungannya, semua keterangan tersebut didaftar dalam ingatan dan fikirannya. Pada gilirannya nanti orang tersebut kemudian mengartikan atau meng-interpretasikan tentang semua informasi yang didaftar tentang lingkungan yang dihadapi tadi. Proses terakhir orang tersebut akan memberikan umpan balik.

Dalam persepsi yang amat menarik dibicarakan adalah proses pemilihan persepsi, yakni suatu proses bagaimana seseorang bisa tertarik pada suatu objek sehingga menimbulkan adanya suatu persepsi mengenai objek tersebut. Adapun faktor penyebab bagaimana seseorang tertarik pada objek tersebut dapat dikelompokkan atas dua hal yakni faktor dari luar diri seseorang dan faktor dari dalam diri sendiri. Faktor dari luar misalnya karena intensitas, ukuran, kontras, pengulangan, gerakan, dan objek tersebut baru atau sudah dikenal. Adapun faktor dari dalam terdiri dari proses pemahamam atau learning, motivasi, dan kepribadian seseorang.

Persepsi dapat diorganisir dalam diri seseorang berdasarkan hal-hal seperti adanya kesamaan dan ketidaksamaan objek, adanya kedekatan dalam ruang, dan adanya kedekatan dalam waktu. Selain itu jika seseorang melakukan persepsi terhadap orang lain, akibat karena adanya hubungan dan interaksi secara langsung, maka orang tersebut melakukan persepsi sosial. Dalam persepsi seperti ini karakteristik masing-masing yang berhubungan amat menentukan. Selain itu beberapa hal yang ikut menentukan prasaran persepsi sosial antara lain karena adanya proses atribusi, stereotype, dan halo effect.
Istilah lain lagi yang amat berhubungan dengan persepsi adalah komunikasi. Banyak pengertian yang dikemukakan tentang komunikasi ini, tetapi ada tiga aspek penting yang merupakan kontinum dibahas dalam buku ini. Tiga aspek tersebut adalah informasi, proses komunikasi dalam suatu organisasi, dan komunikasi antar orang.

Mengenai informasi ada tiga hal penting yang dikemukakan dalam bab ini sehingga dapat memberikan pengertian tentang sifat hakekatnya. Tiga hal itu antara lain kelebihan, pengertian, dan umpan balik. Dengan demikian jika suatu informasi yang dikomunikasikan itu berlebihan akan menimbulkan beberapa reaksi, misalnya orang-orang berkomunikasi gagal memperhitungkan dengan tepat informasi yang diterimanya, banyak membuat kesalahan, menumpuk pekerjaan, penyaringan informasi, mengerti hanya garis besarnya saja, melempar tugas ke orang lain, dan menghindar dengan sengaja informasi yang datang. Adapun sifat lain dari informasi adalah pengertian dan umpan balik. Penerimaan dan pemahaman penerima informasi akan mempengaruhi pengertian ini, demikian pula umpan balik dari informasi tersebut.

Adapun komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi tertentu. Ciri dari komunikasi organisasi ini ialah berstruktur atau berhirarki. Komunikasi ini mempunyai struktur yang vertikal dan horizontal, dan sebagai akibatnya dapat pula berstruktur keluar organisasi. Struktur yang terakhir ini jika organisasi tersebut melakukan interaksi dengan lingkungannya.

Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dan informal maka dalam komunikasinyapun dikenal adanya komunikasi formal dan informal. Komunikasi formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur organisasi. Adapun komunikasi informal arus informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi tersebut. Proses hubungan komunikasi informal tidak mengikuti jalur struktural, sehingga bisa saja terjadi seseorang yang mempunyai struktur formal berada dibawah, berkomunikasi dengan seseorang yang berada di tingkat pimpinan.

Komunikasi yang kiranya juga amat penting dikemukakan sebagai unsur kontimum yang ketiga ialah komunikasi antar pribadi. Efektifitas komunikasi antar pribadi ini, dapat dilihat dari lima hal berikut: adanya keterbukaan, empathy, dukungan, kepositifan, dan kesamaan. Faktor kesamaan ini erat sekali dengan konsep homophily dan heterophily. Homophily menunjukkan pada suatu derajat kesamaan antara dua fihak yang terikat dalam komunikasi, yakni pribadi penyampai informasi dan pribadi yang menerima informasi. Sedangkan lawannya ialah heterophily yang menunjukkan ketidaksamaan.

PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.

Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah; pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari; penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu di dalam menentukan perilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan.

 1. Penekanan.

Pendekatan kognitif menekankan mental internal seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri.

Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku.

Pendekatan psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan sesuatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginan.

2. Penyebab Timbulnya Perilaku

Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan.

Pendekatan reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.

Menurut pendekatan psikoanalitis, perilaku itu ditimbulkan oleh tegangan (tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

3. Proses.

Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental, yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidak sesuaian (inconsistency) dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidak sesuaian tersebut.

Pendekatan reinforcement, lingkungan yang beraksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang.

Dalam pendekatan psikoanalitis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh Ego dibawah pengamatan Superego.

4. Kepentingan Masa lalu dalam menentukan Perilaku.

Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang, tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem.

Teori reinforcement bersifat historic. Suatu respon seseorang pada suatu stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya.

Menurut pendekatan psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, Ego dan Superego ditentukan oleh interaksi dan pengembangannya dimasa lalu.

5. Tingkat dari Kesadaran.

Dalam pendekatan kognitif memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar seperti mengetahui, berpikir dan memahami, dipertimbangkan sangat penting.

Dalam teori reinforcement, tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak. Biasanya aktifitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktifitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka.

Pendekatan psikoanalitis hampir sebagian besar aktifitas mental adalah tidak sadar. Aktifitas tidak sadar dari Id dan Superego secara luas menentukan perilaku.

6. Data.

Dalam pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.

Pendekatan reinforcement mengukur stimuli lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi.

Pendekatan psikoanalitis menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.

KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN

Kepemimpinan adalah suatu aktifitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Disini dapat ditangkap suatu pengertian bahwa jika seseorang telah mulai berkeinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, maka kegiatan kepemimpinan itu telah dimulai. Pengaruh dan kekuasaan dari seseorang PEMIMPIN mulai nampak relevansinya. Itulah sebabnya membicarakan kepemimpinan dapat dimulai dari mana saja. Mulai dari sudut pandangan ilmu perilaku organisasi, karena itu seringkali kepemimpinan dipertautkan dengan manajemen.

Usaha untuk meneliti kepemimpinan sudah dimulai sejak lama. Terutama di Amerika Serikat, usaha tersebut mulai dilakukan oleh studi-studi dari Universitas Iowa disekitar tahun 1930, di Universitas Ohio tahun 1945, dan di Universitas Michigan tahun 1947. Mulai saat itu usaha untuk mengembangkan teori kepemimpinan melaju dengan pesatnya. Banyak teori-teori yang dikembangkan dari hasil penelitian itu, diantaranya teori sifat, teori kelompok atau teori pertukaran, teori situasional dan model kontijensi, teori path-goal, dan pendekatan “Social Learning“. Dan dari teori-teori itu banyak dikenalkan beberapa model dan gaya kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Dari gaya ini dapat diambil manfaatnya untuk dipergunakan sebagai pedoman bagi pemimpin dalam memimpin bawahan atau para pengikutnya. Gaya-gaya kepemimpinan yang banyak dikenalkan oleh para ahli teori kepemimpinan antara lain:

- gaya kepemimpinan kontinum (otokratis dan demokratis),
- gaya kepemimpinan managerial grid,
- gaya tiga dimensi dari Reddin,
- gaya empat sistem dari Likert,
- dan gaya yang nampaknya paling akhir dalam perkembangan teori kepemimpinan di Amerika Serikat, yakni gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.

Kepemimpinan situasional ini dihubungkan dengan perilaku pemimpin dengan bawahan atau pengikutnya. Adapun para pengikut ini dilihat sampai dimana tingkat kematangannya, dalam hal mau dan mampu melakukan tugas-tugasnya.

Dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin ini, ada dua hal yang biasanya dilakukan olehnya terhadap pengikut, yakni: perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung. Perilaku mengarahkan hanya dalam komunikasi satu arah, sedangkan perilaku mendukung diartikan dalam komunikasi dua arah.

Kalau kedua norma perilaku itu dituangkan ke dalam dua poros yang berbeda, maka akan melahirkan empat gaya kepemimpinan, yaitu: Gaya 1 (G1) tinggi pengarahan rendah dukungan, Gaya 2 (G2) tinggi pengarahan dan tinggi dukungan, Gaya 3 (G3) tinggi dukungan dan rendah pengarahan, dan Gaya 4 (G4) rendah dukungan dan rendah pengarahan.

Oleh karena fungsi kepemimpinan yang lazim ialah membuat keputusan, maka gaya kepemimpinan tersebut akan nampak jika dipraktekkan dalam hal melakukan pembuatan keputusan. Dalam hal ini empat gaya tersebut akan dapat rujukan tindakan-tindakan tertentu.

Untuk gaya 1 (G1) pemimpin suka terhadap tinggi pengarahan dan rendah dukungan. Tindakan seperti ini dapat dirujuk dengan tindakan instruksi. Hal ini dilakukan olehnya, karena situasi kematangan bawahan masih rendah. Dan kalau dihubungkan sumber dan bentuk kekuasaan yang dipunyainya, maka pemimpin menyukai sumber kekuasaan paksaan. Sumber kekuasaan ini sangat efektif dijalankan olehnya.

Untuk gaya 2 (G2) dirujuh dengan tindakan konsultasi. Karena masih banyak memberikan pengarahan dan juga perilaku mendukung. Tindakan ini dilakukan karena kematangan bawahan dalam keadaan sedang. Sumber kekuasaan yang ada pada-nya penghargaan dan legitimasi.

Untuk gaya 3 (G3) tindakan pemimpin dirujuk dengan partisipasi. Ini berarti dukungan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan pengarahannya. Karena kematangan bawahan sudah agak tinggi (M3). Posisi kontrol atas pemecahan masalah atau pembuatan keputusan dipegang bergantian antara pemimpin dan bawahan. Sumber kekuasaannya adalah kekuasaan referensi dan informasi. Pemimpin menunjukkan kebolehannya sebagai orang yang lebih dari bawahannya, sehingga penampilan, bobot, dan perilakunya disenangi dan diterima oleh bawahannya. Bawahan menyukainya dan menganggap sebagai sumber informasi, dan tempat bertanya.

Sedangkan gaya 4 (G4) dirujuk dengan tindakan delegasi, karena rendah dukungan dan rendah pengarahan. Hal ini diperbuat karena kematangan bawahan sudah pada taraf yang tinggi (M4). Pemimpin sering mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan, sehingga tercapai kesepakatan. Pembuatan keputusan didelegasikan kepada bawahan. Sumber kekuasaan yang ada padanya kekuasaan keahlian dan informasi.

Demikianlan inti pokok pembahasan kepemimpinan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Kedua istilah ini pemimpin atau kepemimpinan dengan kekuasaan mempunyai relevansi yang cukup tinggi. Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Untuk mempengaruhi, membutuhkan kekuasaan. Sedangkan kekuasaan itu sendiri merupakan potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Ini berarti bahwa kekuasaan adalah merupakan suatu sumber yang memungkinkan seorang pemimpin mendapatkan hak untuk mengajak, meyakinkan, dan mempengaruhi oran lain.

Perjalanan pemberdayaan adalah salah satu hal yang paling menantang yang bisa dilakukan setiap karyawan. Ini meminta kita agar merubah berbagai asumsi dasar yang kita miliki sebelumnya. Dan untuk mencapai ke arah pemberdayaan, banyak jalan yang tersedia. Masing-masing perusahaan dan orang mungkin akan memilih jalan yang berbeda untuk tujuan yang sama. Perubahan memerlukan komitmen dan usaha nyata, maka akan sangatlah membantu jika kita memiliki rencana aksi sebagai panduan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Sangatlah penting untuk memahami bahwa setiap perubahan organisasi akan melewati berbagai tahap jika ingin menuai kesuksesan. Adapun tiga tahap perubahan tersebut adalah:

1. Memulai dan Mengorientasikan Pemberdayaan.
2. Perubahan dan Putus Asa.
3. Menerapkan dan Menghaluskan Pemberdayaan.

Pada masing-masing tahapan memiliki berbagai masalah dan aksi sendiri, yang berarti ketiga tahap itu memiliki fungsi yang berbeda. Namun ketiga tahap itu harus dilewati dan diterapkan semuanya. Kita tidak bisa menggunakan satu tahap dan mengabaikan tahap lainnya. Sedangkan kunci pemberdayaan ada 3 macam, yaitu:

1. Saling berbagi informasi kepada setiap orang
2. Menciptakan otonomi memalui batas-batas
3. Tim menjadi hirarki.

Dalam menciptakan kultur pemberdayaan, salah satu perubahan utama mencakup sebuah perpindahan dari ketergantungan pada kepemimpinan ke kondisi kemandirian pada kepemimpinan. Untuk membantu panduan perjalanan ini kita menggunakan Kepemimpinan Situasional dan penerapannya untuk 4 ranah - kepemimpinan diri, kepemimpinan satu-satu, kepemimpinan tim, dan kepemimpinan organisasi - bersama tiga kunci pemberdayaan.

Berikut Tahapan Rencana Aksi Pemberdayaan:

Tahap 1 Memulai dan Mengorientasikan Pemberdayaan

1. Saling berbagi informasi untuk memulai proses perubahan
2. Menatapkan batas-batas untuk menciptakan otonomi
3. Mengembangkan tim untuk mengganti sistem hirarki

Tahap 2 Perubahan dan Putus Asa

1. Berbagi dan mendengarkan lebih banyak lagi informasi
2. Memperluas batas-batas untuk menetapkan otonomi dan tanggung jawab
3. Mendorong tim untuk lebih banyak menerapkan peran hirarki

 Tahap 3 Menerapkan dan Menghaluskan Pemberdayaan

1. Meningkatkan saling berbagi informasi untuk meningkatkan performa
2. Memasukkan batas-batas ke dalam sistem nilai setiap orang
3. Tim mengganti sistem hirarki

Semoga Bermanfaat.....!!!!

MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG BLOG LSBO KHALIFAH DALAM PROSES PERBAIKAN.........