HARLA 1 LSBO KHALIFAH

Pentas Seni Untuk Amal Panti Asuhan Di Kota Manado, Yang Dibuka Dengan Seminar Budaya dan Pameran Foto Pendidikan LSBO Khalifah

PENDIDIKAN DAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU

Foto Bersama Pengurus LSBO Khalifah dan Anggota Baru Setelah Melewati Malam Pengukuhan dan Renungan Di Pondok Pesantren Al-Khairaat Mapanget Manado.

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Lagi Asyik Nonton and Menyemangati Tim Futsal Divisi Olahraga LSBO Khalifah..Bersemangat....!!!!

PENTAS SENI AWAL TAHUN

Foto Bersama Anggota Lembaga Seni Buadaya dan Olahraga Khalifah Di Acara Pentas Seni Awal Tahun Perkuliahan STAIN Manado

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Setelah Mengurusi Kegiatan, Anggota Korps Putri Masih Sempat Berfoto Ria ...... Masih Tetap Semangat... Bravo Korps Putri...

TAHUN BARU ISLAM

Anggota Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Memeriahkan Acara Satu Muharram 1431H Dengan Mengikuti Pawai Keliling Kota Manado Sulawesi Utara

LSBO KHALIFAH

Kalau Kau Tidak Ingin Diganggu Jangan Kau Mengganggu...!!! Sebab Kami Tidak Mau Diganggu...!!! Jika Kau Akan Melakukan Kerusakan Di STAIN Manado, Maka Kau Berhadapan Dengan Kami...!!!

LAIN PERGI YANG LAIN DATANG

Foto Bersama Pasca Pemutihan Anggota LEmbaga Seni Budaya dan Olahraga LSBO Khalifah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Manado

Minggu, 06 Februari 2011

Antagonisme Politik Sebuah Pengantar

Oleh : Fitriani Lundeto

Antagonisme adalah unsur yang paling penting dalam politik; karena antagonisme ada, maka harus ada usaha untuk menghilangkan atau menguranginya guna mencapai integrasi sosial. Masalah utama dari antagonisme politik adalah bagaimana menentukan sebab-sebab dari antagonisme politik. Setiap doktrin politik menekankan satu sebab. Bagi kaum konservatif tradisional, perjuangan untuk merebut kekuasaan menempatkan “elite” –mereka yang mampu melaksanakan kekuasaan –melawan “masa” –mereka yang menolak untuk mengakui superioritas alami dari elite dan haknya untuk pemerintah. Beberapa orang juga mempertahankan bahwa ada ras-ras superior, yang ditentukan untuk berkuasa, dan ras-ras inferior, yang bisa berpartisipasi di dalam proses peradapan di bawah bimbingan ras-ras superior.

Kaum liberal menolak paham tentang ketidaksamaan alami di kalangan kelompok-kelompok sosial atau ras. Mereka melihat perjuangan politik sama seperti perjuangan ekonomi. Di dalam suatu masyarakat di mana tidak ada cukup benda-benda konsumsi untuk memuaskan permintaan umum, ada persaingan yang konstan di antara manusia, di mana setiap orang mencoba meraih keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya dengan merugikan orang lain. Hal ini menegaskan bahwa memegang posisi kekuasaan memberikan seseorang keuntungan yang sangat besar. Dari sini homo politicus  tidaklah berbeda dari homo economicus. Pergumulan politik mempunyai motif yang sama seperti persaingan ekonomi. Kedua-duanya adalah bentuk dari struggle for life, yang secara mendasar menempatkan satu spesies melawan yang lain, dan individu di dalam spesies melawan yang lainnya, menurut biologi Darwin.

Bagi kaum Marxis, antagonisme politik pada hakekatnya bersifat ekonomis, akan tetapi mereka lebih tergantung pada sistem produksi daripada persaingan bagi benda-benda konsumsi. Keadaan teknologi menentukan cara produksi (pertanian purba, pertanian feodal, dan industri pertanian), yang pada gilirannya menghasilkan kelas-kelas sosial; beberapa kelas mempunyai alat-alat produksi dan karena itu dominan, sedangkan yang lain hanya mempunyai kemampuan bekerja dan harus dijual jasanya kepada yang memiliki alat. Kelas yang terdiri dari pemilik harta benda mempergunakan keadaan itu untuk mempertahankan dominasinya terhadap kelas yang tidak mempunyai harta milik, yang secara alami menolak penindasan ini. Konsekuensinya, perjuangan politik disebabkan oleh perjuangan kelas.

Doktrin-doktrin Marxis melecehkan konflik politik atara kelompok-kelompok sosial selain konflik kelas (komunitas, daerah, bangsa, agama, ideologi dan lainnya) sebagai kelas dua. Kaum Marxis menganggapnya hanya sebagai pencerminan perjuangan kelas. Penjelasan tunggal yang meliputi segala-galanya ini kelihatannya tidak diterima. Faktor-faktor “sosialkultural”, di mana sejarah, tradisi, dan pendidikan memainkan bagian penting di samping faktor-faktor material, kelihatannya memberikan sumbangannya sendiri kepada antagonisme politik dan tidak bisa senantiasa dihubungkan dengan perjuangan kelas.

Lahirnya teori-teori psikoanalisa mutakhir menjelaskan motivasi psikologis tentang pergolakan-pergolakan politik. Konflik-konflik batin misalnya, menghasilkan frustasi yang berkembang ke dalam kecenderungan-kecenderungan agresi dan dominasi. Satu dari keutamaan analisa-analisa jenis ini adalah untuk menunjukkan bahwa homo politicus adalah sangat kompleks, dan keinginan bagi keuntungan material dari kekuasaan bukanlah selalu motif utama yang mendorongnya untuk memperolehnya. Benar, bahwa tidak ada yang lebih menjadi homo politicus; malahan, manusia secara keseluruhan terlibat di dalam kehidupan dengan berbagai macam aspek.

Kita bisa menggolongkan sebab-sebab yang berbeda-beda dari antagonisme politik dari beberapa aspek yaitu : ada yang bekerja pada tingkat individual seperti kecerdasan pribadi dan faktor psikologi; sedangkan yang lain ada yang bekerja pada tingkat kolektif, seperti faktor-faktor rasial, perbedaan di dalam kelas-kelas sosial, dan faktor-faktor sosialkultural. Setiap kategori sesuai dengan sebuah bentuk perjuangan politik. Perjuangan yang berputar di sekeliling kekuasaan terjadi terjadi di antara individu-individu, pada satu pihak, dan antar kelompok di pihak lain. Perjuangan merebut kekuasaan menempatkan individu-individu dalam persaingan dengan contoh semisal mendapatkan portofolio kabinet, kursi parlemen, pos untuk menjaga perfect, bintang-bintang jenderal, kabag, subbag, Pembantu Ketua, Ketua/Rektor, dan lain sebagainya. 

Di dalam kumpulan manusia yang besar, konflik-konflik individual ini dilipatgandakan oleh konflik-konflik universal antara kelompok di dalam masyarakat –ras, kelas, komunitas, lokal-korporasi-korporasi, bangsa-bangsa, dan lain sebagainya. Dua jenis perjuangan menjadi campur baur. Arti pentingnya masing-masing ditafsirkan serbaneka dari idologi politik serbaneka: idologi liberal terutama mempertimbangkan konflik-konflik kolektif; idiologi sosial dan idiologi konsrvatif berbuat persis sebaliknya, yang pertama menekankan konflik kelas, dan yang kedua, konflik di antara ras-ras atau “kelompok horizontal” (bangsa-bangsa, agama-agama, suku-suku, dan lain sebagainya).

Perang Politik Dan Sebuah Conspiracy


Kampus sebagai salah satu center of intellectuality memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai ranah pemikiran, mulai dari yang kekiri–kirian sampai kiri abis (Liberal), atau yang kekanan-kananan sampai kanan abis (Fundamental), tapi tidak kurang juga yang berpemikiran moderat. Tapi itu hanyalah sebagian perspektif berfikir yang timpul dikalangan mahasiswa baik secara individu maupun kelompok karena kampus merupakan mimbar kebebasan untuk mengekspresikan setiap wacana pemikiran yang timbul. Begitupun mahasiswa yang lebih condong melihat permasalahan dari aspek akademisi dan selalu kritis. Terlepas dari aspek pemikiran dari setiap individu mahasiswa ada isu pokok main issue yang biasanya setiap tahun kita temui dalam ranah kampus yaitu Kongres mahasiswa dan Pemilihan raya. Peran mahasiswa untuk membangun kampus yang lebih dinamis merupakan tujuan dari regenerasi kepemimpinan bahkan menciptakan ruang kondusif bagi demokratisasi kampus.

Disinilah peta politik kampus kian memanas dimana setiap kelompok memainkan perannya masing-masing bahkan saling adu strategi politik sampai kepada politik praktis hingga akhirnya siapa yang lebih matang perencanaan dan pergerakannya maka merekalah yang memegang singgasana birokrasi kelembagaan. Dengan memobilisasi massa yang banyak dan pencitraan yang baik maka itu merupakan suatu strategi perang yang sebagian masih menjadi andalan dari kelompok-kelompok tertentu. Tapi tidak menutup kemungkinan dengan adanya kelompok yang mempunyai Teori tersendiri untuk bisa mematahkan dominasi atau status quo dari penguasa sebelumnya ”incumbant”. Hegemoni diktatokrat yang dibangun sebelumnya tidak beda jauh dengan sistem monarki keberpihakan di era orde baru, ini merupakan sebuah polemik dimana hanya kelompok tertentu yang mendominasi setiap peran penting yang ada. Bahkan hal ini berimbas kepada suatu ketidak seimbangnya tatanan masyarakat kampus.

Berbagai cara dipakai untuk meloloskan kepentingan hingga memanfaatkan issue sehingga bisa menjatuhkan lawan. Hanya saja setiap strategi yang dipakai selalu mempunyai kelemahan, suatu ketika dimana kebersamaan untuk membuat perubahan dengan saling menyatukan ideologi dan idealis melahirkan sebuah perlawanan dalam bentuk strategi Conspiracy dimana dibangunnya suatu koalisi serta penyatuan setiap elemen mahasiswa dan dijadikan sebagai kekuatan awal yang dibangun untuk memecah peta politik yang sudah diprediksikan oleh sebagian pemerhati kampus. Menyatukan sebuah gagasan dan sampai kepada suatu perlawanan yang dibuat melahirkan sebuah sejarah baru dan membuktikan bahwa perubahan pasti akan terjadi dimana kaum pelopor membuktikan eksistensi mereka belum mati bahkan kian bersatu. Bahkan ada istilah yang mengatakan “ideas are the moving forces of history” (gagasan adalah sebuah tenaga penggerak dalam sejarah). Kesepahaman yang dibangun dengan suatu tujuan yang murni untuk melihat perubahan menjadikan suatu kekuatan tersendiri dan bentuk kepedulian kampus sehingga apa yang dicita-cita kan bisa terwujud.

Hal inilah yang menguji setiap mahasiswa siap membesarkan kampus bukan membesarkan kaumnya masing-masing. Idealis kampus harus dibangun ketika kita berada didalam kampus, meminjam kata-kata senior saya yang juga merupakan guru spiritual bagi saya dan teman-teman yaitu saudara (Iklam Patonaung) beliau mengatakan bahwa” jangan kalian bertanya apa yang sudah kampus berikan kepada kalian tetapi bertanyalah apa yang sudah kalian berikan terhadap kampus”. Kata-kata beliau memiliki nilai filosofis dimana kita haruslah bermanfaat bagi kampus, tanyakan kepada diri kita sendiri apa yang sudah kita lakukan demi kepentingan kampus bukan pribadi dan kelompok, serta prestasi apa yang telah kita capai selama ini. 

Kita menyadari betapa penting dan berpengaruh setiap unsur yang ada di dalam sebuah sistem. entah pegawai, dosen, mahasiswa, pejabat, sumberdaya, fasilitas dan lain sebagainya. akan membawa ketidak seimbangan ketika ada bagian yang terabaikan. pertanyaannya adalah apakah setiap unsur yang ada di dalam sistem sadar akan keberadaanya ??? ada sebuah ungkapan yang menarik dari Kakanda Aditya Fathonah Toreh, "Keberadaan manusia di dalam sebuah sistem memiliki hukum yang kurang lebih seperti fikih ibadah. ada manusia keberadaanya di dalam sistem adalah Wajib, ada yang Sunnah, Makru, Mubah dan Haram." nah kita masuk dalam kategori yang mana ??? wallahu'alam bsb. 

Drs. Moh. Faisal Toreh


Drs. Moh. Faisal Toreh, adalah anak tertua dari perkawinan Naomi Toreh dan Tadashi Yamada (Perwira Kaygun) pada tahun 1945. Beliau di adobsi oleh kakak Naomi Toreh yaitu Simon Toreh dan Isterinya Heli Ratulangi di Jakarta, sehingga beliau menggunakan marga Toreh. setelah mendapatkan pendidikan yang keras dari keluarga tentang kemandirian, dan dengan berbagai kontroversi kehidupan dan status keluarga, setelah menyelesaikan studi Strata Satu, beliau merantau ke Kota Bitung Sulawesi Utara dengan mencoba mecari jati dirinya yang sempat disembunyikan oleh pihak keluarga di Minahasa. semasa perantauan, beliau terkenal dengan sosok pekerja keras dan sopan serta setiakawan. sadar akan tuntutan manusiawinya, beliau  menikah dengan Djubaidah T. Dunggio pada tahun 1970 dengan sebelumnya melewati proses yang teramat panjang untuk bisa menikah. Perkawinan beliau dikaruniai empat orang anak yaitu : 1. Nurdiana F. Toreh, 2. Avianti F. Toreh, 3. Hamdani F. Toreh dan 4. Aditya F. Toreh. banyak hal yang diberikan oleh beliau kepada keluarga baik pendidikan cinta kasih, kemandirian, disiplin dan lain sebagainya. Beliau (Drs. Moh. Faisal Toreh) Meninggal pada tangal 4 Mei Tahun 2000.

Pada bagian bawah dilampirkan beberapa dokumen yang pernah diusahakan oleh Drs. Moh. Faisal Toreh untuk mencari Ayahnya melalui kedutaan Jepang di Indonesia yaitu berupa foto surat keteragan yang disusun guna keperluan Kedutaan Jepang di Indonesia dalam penelusuran keluarga atau Ayah dari Drs. Moh. Faisal Toreh (Tadashi Yamada) tetapi pihak keluarga mengalami kebuntuan dalam penelusuran keluarga di kedutaan Jepang di Indonesia sebab ada kesan di biarkan dan dipersulit oleh pihak kedutaan. Sesungguhnya Drs. Moh. Faisal Toreh dan dari pihak keluarga tidak menginginkan hal yang lebih dari pencarian Tadashi Yamada, sebab kami telah hidup dalam keadaan yang cukup. Hal yang paling diinginkan oleh almarhum Drs. Moh. Faisal Toreh adalah dapat bertemu langsung dengan ayahanda tercinta Tadashi Yamada. atau jika telah meninggal bisa diberikan foto Tadashi Yamada untuk bisa diperkenalkan kepada anak keturunan di kemudian hari.



MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG BLOG LSBO KHALIFAH DALAM PROSES PERBAIKAN.........