HARLA 1 LSBO KHALIFAH

Pentas Seni Untuk Amal Panti Asuhan Di Kota Manado, Yang Dibuka Dengan Seminar Budaya dan Pameran Foto Pendidikan LSBO Khalifah

PENDIDIKAN DAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU

Foto Bersama Pengurus LSBO Khalifah dan Anggota Baru Setelah Melewati Malam Pengukuhan dan Renungan Di Pondok Pesantren Al-Khairaat Mapanget Manado.

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Lagi Asyik Nonton and Menyemangati Tim Futsal Divisi Olahraga LSBO Khalifah..Bersemangat....!!!!

PENTAS SENI AWAL TAHUN

Foto Bersama Anggota Lembaga Seni Buadaya dan Olahraga Khalifah Di Acara Pentas Seni Awal Tahun Perkuliahan STAIN Manado

KORPS PUTRI LSBO KHALIFAH

Setelah Mengurusi Kegiatan, Anggota Korps Putri Masih Sempat Berfoto Ria ...... Masih Tetap Semangat... Bravo Korps Putri...

TAHUN BARU ISLAM

Anggota Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Memeriahkan Acara Satu Muharram 1431H Dengan Mengikuti Pawai Keliling Kota Manado Sulawesi Utara

LSBO KHALIFAH

Kalau Kau Tidak Ingin Diganggu Jangan Kau Mengganggu...!!! Sebab Kami Tidak Mau Diganggu...!!! Jika Kau Akan Melakukan Kerusakan Di STAIN Manado, Maka Kau Berhadapan Dengan Kami...!!!

LAIN PERGI YANG LAIN DATANG

Foto Bersama Pasca Pemutihan Anggota LEmbaga Seni Budaya dan Olahraga LSBO Khalifah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Manado

Rabu, 19 September 2012

Rekrut Mahasiswa Baru, LPT Buat Dosa Baru



Anggota LSBO Khalifah


Setiap pergantian tahun ajaran baru, para birokrasi LPT disibukkan dengan kegiatan mencari mahasiswa baru untuk menambah kuantitas lembaga perguruan tinggi yang ada. Tidak perduli walaupun pada kenyataannya banyak yang melakukan sosialisasi hanya sekedar untuk rekreasi belaka atau hanya sekedar mendapatkan honorisasi dari kegiatan tersebut, sehingga kebanyakan pada masalah-masalah seperti ini mahasiswa lama sering dan tidak sama sekali dilibatkan, alasannya pasti model "zaman batu", bahwa mahasiswa lama yang ikut dalam sosialisasi dalam segi pemberian honorisasi misalnya dimasukkan atau digolongkan pada golongan yang mana, golongan 'A', golongan 'B' atau golongan 'Syetan', terlepas dari semua itu, penulis berasumsi bahwa mahasiswa lama mempunyai andil yang sangat besar dalam perekrutan mahasiswa baru, sebab mahasiswa lama pergaulannya lebih luas di samping itu banyak dari sekian mereka yang membina badan tadzkir, club-club olahraga, lembaga seni, yang ada di SMU/SMA/MAN tersebut dibandingkan dengan tim sosialisasi yang hanya melibatkan para dosen, staf/karyawan yang sudah dimakan usia dan sudah dirindukan oleh cacing-cacing tanah yang telah merasa kelaparan. Pertanyaan sekarang adalah mengapa mahasiswa lama dalam proses sosialisasi tidak sama sekali dilibatkan? Apakah para birokrasi LPT tidak mau kalau mahasiswa lama mengobok-obok kejelekan dan keburukan kampusnya sendiri? Ataukah para birokrasi LPT takut kalau pamflef, brosur dan spanduk yang bertuliskan bahwa kampus mereka adalah "Unggul dan Berkualitas" serta janji-janji lainnya untuk dapat mempengaruhi mereka agar masuk di LPT akan bertentangan dengan pemikiran dari mahasiswa lama? Paradoksal di atas merupakan imbas dari LPT yang tidak percaya diri dengan kekurangan mereka miliki selama ini, sehingga dengan sewenang-wenangnya mereka berbuat hal-hal yang dianggap tidak sejalan dengan identitas LPT yang dipimpinnya, bahkan jika perlu main suap asalkan sang anak dapat masuk di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Agar tidak terjebak pada janji-janji yang sifatnya semu, maka sudah saatnya LPT mengubah sistem sosialisasi yang selama ini mereka tempuh dengan cara memaparkan apa adanya, tanpa ada pembohongan kepada publik, sehingga kita dapat terhindar dari 'lingkaran dosa' serta berusaha untuk memperbaiki sistem yang selama ini dilakukan untuk menjadikan para lulusannya menjadi lebih baik diantara yang terbaik, baik dari segi peningkatan kualitas dosen, sistem kurikulum, manajemen sehingga dengan hal ini masyarakat akan sadar dan paham bahwa LPT tersebut itu benar-benar berkualitas dan bergengsi, maka dengan sendirinya mereka akan memasukkan anak-anaknya untuk masuk dan berlomba-lomba ke LPT yang dianggapnya mewakili apa yang diharapkannya dan inilah salah satu cara untuk mensosialisasikan LPT tanpa menghambur-hamburkan dana yang mencapai puluhan juta tetapi hasilnya nihil. 

Namun perlu disadari menjadi seorang sarjana adalah dilema besar. Jika mereka tak mampu berbuat apa-apa, maka bukan hanya masyarakat yang mencela. LPT tempat mereka berproses, sebagai sarjanapun juga ikut menyalahkan. Benarkah, banyaknya sarjana kita sebagai penganggur adalah kesalahannya sendiri? Hal inilah yang jarang dipertanyakan. Sebab kampus sudah menjadi "tempat suci" yang disakralkan. Celakanya diperparah juga oleh media yang jarang menyoal pertanggungjawaban LPT. Ini bisa dimengerti. Karena mereka turut berkepentingan dengan suburnya bisnis LPT. Diduga, guyuran pemasangan iklan, di media, saat musim penerimaan mahasiswa baru, bisa bernilai ratusan juta hingga milliaran rupiah, bahkan dengan sombongnya mereka memasang slogan, pamflet, serta iklan dengan tulisan "Unggul Dan Berkualitas", hal itu menurut penulis sangat ideal jika LPT tersebut benar-benar mengerti dan paham akan maksud dari iklan tersebut, namun yang jadi masalah adalah ketika LPT tidak mengerti dan paham dengan maksud dari iklan tersebut, sehingga penulis dapat berasumsi bahwa hal ini merupakan "dosa bersama" yang dilakukan oleh sebuah LPT untuk menarik perhatian masyarakatnya. Kondisi tersebut tidak adil. Hal ini sungguh bertolakbelakang dengan rayuan dan janji-janji saat promosi untuk menarik calon peserta didik baru di LPT,. Kalau mau jujur. Tanpa banyak disadari, sebetulnya lembaga pendidikan tinggi mencetak sampah masyarakat. Seorang bergelar sarjana menjadi tidak berguna, ketika kebingungan menentukan perannya ditengah-tengah masyarakat. LPT terkesan tidak mau tahu dengan lulusannya. Yang banyak dilakukan, hanya mencatat alumninya yang sukses bekerja. Padahal seharusnya mereka berani bertanggungjawab dengan ketidakberhasilannya membuat para sarjana eksis ditengah masyarakat. Ketidakmampuan seorang lulusan LPT yang kini jumlahnya makin membengkak, sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh buruknya proses belajar, yang digunakan selama ini. Cukup susah untuk mendefinisikan apa saja yang menjadi penyebab utamanya. LPT, dengan segala cara, akan mempertahankan citranya tetap baik di tengah masyarakat. Semakin keras dipertanyakan kualitasnya, maka semakin hebat mereka mengelak. Tetapi ada satu jurus yang sulit untuk didebat dengan dalih apapun. Termasuk dalih tidak ilmiah, dan tidak akademis. Sebagaimana sering dijadikan penangkal, dari serangan kritik. Jika memang benar, LPT telah mendidik seseorang dengan berkualitas, beranikah mereka membuat perjanjian yang berkekuatan hukum? Alih-alih apabila ternyata lulusannya tidak sesuai, dengan janjinya saat promosi, akan sukarela digugat di pengadilan sekalipun. Olehnya sudah seyogyanya LPT memerlukan beberapa hal agar mereka dapat bersaing dalam perekrutan mahasiswa baru dan dapat menjadikan lulusannya bisa bersaing, diantaranya adalah:

Pertama, Pentingnya membuat perjanjian dengan calon siswa sebelum masuk ke LPT, akan benar-benar menjadi seleksi mana LPT yang sesungguhnya lebih berkualitas dalam mencetak sarjana. Sebab, LPT yang tidak bermutu proses belajar-mengajarnya, segera akan tersisih. Hal ini menuntut agar LPT segera mendapatkan sistem penentuan kualitas ala Badan Akreditasi Nasional (BAN), memang harus diakui penentuan kualitas dari BAN, hukumnya adalah Sunnah, namun perlu diingat bahwa banyak sarjana yang dihasilkan oleh sebuah LPT tidak diterima di dunia pasar kerja disebabkan oleh permintaan pasar yang menghendaki agar mereka menyertakan langsung sertificat yang dikeluarkan langsung oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Oleh sebab itu, sistem yang selama ini menjadi sebuah kebanggaan dan diterapkan oleh sebuah LPT perlu dikoreksi kembali. Untuk menentukan kualitas LPT tidak cukup dilihat, dari berapa jumlah pengajar bertitel S2 maupun S3 yang dimiliki. Kemudian perangkat fasilitas dan bangunan yang megah. Penelitian-penelitian yang meragukan akurasinya. Tentunya, akreditasi berdasarkan hal tersebut berpotensi menyesatkan serta semakin menjauhkan cita-cita LPT itu sendiri dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Termasuk konsekuensi bagi penyelenggara, untuk sukarela dituntut apabila tidak sesuai dengan promosi yang pernah dilakukan. Diantaranya, bersedia mengembalikan biaya pendidikan seratus persen selama proses pendidikan. Termasuk bila perlu dituntut dimuka pengadilan. 

Substansi apa yang dilakukan oleh LPT tersebut bisa menjadi bahan perenungan bersama. Kiranya, apabila tujuhpuluh persen saja para penyelenggara pendidikan dinegeri ini, termasuk LPT mampu membuat perjanjian yang berkonsekuensi hukum seperti itu, maka secara drastis pula kita akan melihat sarjana yang tidak berdaya menurun jumlahnya. Missi dan visi pendidikan LPT, seyogyanya, bukan hanya pemanis identitas saja. Tetapi perlu dituangkan secara riil mulai bentuk perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan program pendidikan yang jelas, terarah dan bertanggungjawab. 

Kedua, membuang jauh-jauh "doktrin sesat" bahwa mahasiswa yang akan masuk dan belajar diperguruan tinggi yang disosialisasikannya akan selamanya berhasil sebab lapangan pekerjaan sangat luas, ditinjau dari sisi psikologi hal ini tentunya akan sangat merugikan mahasiswa dan tenaga pengajar itu sendiri, sebab di samping mahasiswa akan semakin malas untuk memacu dirinya dalam pengembangan intelektualitasnya hal ini akan diperburuk lagi oleh keadaan para pengajar/dosen yang malas dalam mentransfer ilmunya kepada mahasiswa yang menjadi bimbingannya.

Ketiga, LPT sudah seyogyanya membuka diri dengan jaringan-jaringan yang dianggap relevan dengan pengembangan dan penunjang efesiensi proses belajar mengajar, sehingga akan tercipta suasana yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Serta membuka jaringan kerjasama dengan seluruh sekolah-sekolah yang ada dipermukaan bumi ini, sehingga dengan demikian pada saat perekrutan mahasiswa baru LPT tidak lagi menghambur-hamburkan dana tetapi hasilnya adalah nihil belaka.

Keempat, sudah saatnya LPT memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk dapat berkreasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya selama hal itu dapat menguntungkan bagi dirinya dan LPT itu sendiri, dan bukan sebaliknya "memeras dan memenjarakan" segala aktivitas mahasiswa dengan cara mengurangi nilai mahasiswa, mengklaim mahasiswa itu tidak mempunyai etika, bahkan lebih tidak manusiawi lagi sampai mengancam dan memukul mahasiswa yang tidak sejalan dan seirama dengan kebijakan yang diambil oleh LPT.

Berangkat dari beberapa kemungkinan di atas maka penulis percaya bahwa birokrasi LPT yang mengumbar janji-janji akan terhindar dari dosa baru dan dosa bersama pula, sebab apa yang mereka janjikan pada saat sosialisasi benar-benar dari kenyataan yang ada di LPT tersebut. Terlepas dari janji-janji yang terasa manis dibibir dan terasa pahit rasanya adalah sangat sulit untuk direalisasikan selama LPT masih bersifat dan membawa idealismenya yang mereka dapatkan dari "zaman batu" yang tidak lagi ada relevansinya dengan zaman sekarang, zaman ini memerlukan pemikiran yang lebih serius dan matang, bukan saatnya lagi sebuah kinerja dihargai dengan penggolongan honorisasi belaka tetapi yang perlu adalah bersama-sama menciptakan suasana bersifat educatif.

PENYAKIT ORGANISASI

Oleh : Irawan Lahay
Ketua LSBO Khalifah 2009-2010

Dalam dunia bisnis ada berbagai macam fenomena menarik. Ada pengusaha dan/atau perusahaan yang cenderung suka "bermimpi" dalam arti merumuskan tujuan perusahaan setinggi langit tanpa pernah tercapai. Sebaliknya, banyak pula yang terlalu menerima kenyataan, statis dan sangat khawatir terhadap adanya perubahan dan tidak pernah berani bermimpi! Sebenarnya fenomena ini sangat umum di Indonesia, bahkan mungkin mewakili sebagian besar wajah perusahaan Indonesia baik swasta, pemerintah atau pun BUMN. Itulah sebabnya mengapa lebih banyak kredit macet disebabkan oleh pengusaha-pengusaha besar dibandingkan pengusaha kecil. Itu sebabnya pula mengapa perekonomian Indonesia terpuruk dan tidak kunjung bangkit, padahal di negara Asia yang sama-sama terkena krisis ekonomi sudah berhasil melewati masa krisis tersebut bahkan tingkat pertumbuhan ekonominya sudah makin baik, contohnya Thailand dan Korea Selatan.   


Gejala
Menurut William A. Cohen (1993), seorang profesor dari California State University-Los Angeles, sebuah perusahaan atau organisasi dapat di padankan dengan pribadi individu. Seperti hanya kepribadian individu yang dapat mengalami gangguan, demikian juga organisasi. Jika organisasi itu terserang penyakit, maka orang-orang yang bekerja di dalamnya pasti akan terkena dampaknya secara langsung. Ada bermacam-macam gangguan mental yang dapat dialami oleh organisasi; dan tiap organisasi bisa mengalami gangguan yang berbeda. Beberapa gejala yang kelihatan di antaranya seperti ketiadaan struktur yang jelas dan pasti, tidak adanya suasana saling percaya, kebiasaan mudah memecat karyawan, kebiasaan suka menipu klien atau supplier, membohongi pelanggan dan suka ingkar janji, kelesuan yang dirasakan oleh hampir seluruh karyawan, banyaknya korupsi, membudayanya kolusi dan nepotisme, maraknya isu SARA di dalam organisasi, adanya perlakuan diskriminasi di antara karyawan, adanya kebiasaan menunda keputusan atau pekerjaan, sulitnya memperoleh komitmen atasan dan masih banyak gejala lainnya.   


Sebab dan Akibat
Banyak sekali hal yang dapat menjadi sumber penyakit dalam kehidupan organisasi. Menurut Kernberg, seorang profesor sekaligus psikiater ternama yang sangat dipengaruhi oleh aliran psikoanalisa, suatu organisasi bisa saja mengalami kemunduran karena organisasi tersebut mempunyai "racun" di dalamnya. Racun itu bisa berbentuk gangguan kepribadian yang dialami oleh pimpinan dan kemudian menjalar ke karyawan, bisa juga kebudayaan organisasi itu yang patologis atau kesalaham sistem baik itu sistem pemerintahan ataupun sistem intra organisasi.
Sementara itu, akibat dari penyakit atau gangguan yang dialami organisasi akan membawa pengaruh yang serius seperti:
·         Menghancurkan moral anggota
·         Menurunkan produktivitas aktifitas
·         Menurunkan kualitas yang dihasilkan oleh organisasi tersebut.
·         Menyakiti hati pihak-pihak yang berhubungan dengan organisasi
·         Membuat frustrasi anggota, terutama anggota potensial
·         Menyebabkan organisasi tersebut mengambil keputusan atau pun tindakan yang tidak rasional
·         Menaruh perhatian pada hal yang tidak relevan dengan orientasi organisasi tersebut.
·         Berpotensi menghancurkan potensi kepemimpinan yang dimiliki oleh organisasi
·         Menghancurkan hubungan baik dengan organisasi lain yang telah dibina selama bertahun-tahun


Tindakan
Banyak orang atau perusahaan melakukan kesalahan fatal dengan hanya memperbaiki keadaan yang tampak (gejala) dari permukaan tanpa mencari dan memahami latar belakang psikologis dari penyebabnya. Akibatnya, masalah yang sama terus-menerus terjadi bahkan tambah parah. Alangkah baiknya jika penanganan yang diberikan pada organisasi atau pun individu ini disesuaikan dengan jenis gangguannya. Karena tiap gangguan mempunyai karakteristik yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Dalam menangani masalah organisasi, pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan analisa terhadap keseluruhan komponen organisasi, mulai dari orangnya, sistem, struktur, budaya, dan komponen lainnya. Jika sudah ditemukan di mana akar masalahnya, maka harus segera diberi penanganan yang didesain khusus untuk permasalahan tersebut.

AKAR KEBUDAYAAN BARAT

Oleh :Ming Minor
Anggota LSBO Khalifah
Kontribusi dari Hamid Fahmy Zarkasyi

Pendahuluan

Sebuah kebudayaan atau peradaban memiliki sejarahnya sendiri-sendiri untuk bangkit dan berkembang. Namun, suatu peradaban tidak mungkin lahir dan berkembang tanpa bersentuhan dengan kebudayaan lain dan saling meminjam. Proses pinjam meminjam antar kebudayaan hanya bisa terjadi jika masing-masing kebudayaan memiliki mekanismenya sendiri-sendiri. Pada umumnya sarjana Barat modern membagi sejarah Barat (Eropah) menjadi zaman kuno, zaman pertengahan dan zaman modern. Yang kuno dibagi menjadi Yunani dan Romawi. Zaman Pertengahan dikelompokkan menjadi zaman Kristen awal, transisi dari kuno ke Pertengahan dan Pencerahan. Ini berarti bahwa akar zaman modern adalah Yunani, Romawi dan Abad Pertengahan. Akan tetapi para sejarawan Barat berbeda pendapat mengenai
asal usul kebudayaan mereka.

Perbedaan itu meruncing ketika para sejarawan berpegang pada ilmu sebagai akar kebudayaan. Artinya, sebuah kebudayaan atau peradaban akan lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan konsep-konsep keilmuan didalamnya. Sebab faktor keilmuan inilah sebenarnya yang melahirkan akifitas sosial, politik, ekonomi dan aktifitas kultural lainnya. Dengan kata lain, kerja-kerja intelektual dan keilmuan anggota masyarkatlah sebenarnya yang melahirkan kebudayaan. Ini berimplikasi bahwa diatas konsep-konsep keilmuan terdapat suatu sistim dan super sistim yang disebut dengan worldview (pandangan hidup atau pandangan alam). Suatu peradaban tidak akan bangkit dan berkembang tanpa adanya pandangan hidup dan aktifitas keilmuan di dalam masyarakatnya. Demikian pula Barat, sebagai kebudayaan, tidak akan bangkit dan berkembang dan melahirkan sains tanpa memiliki pandangan hidup
terlebih dahulu.  Atas dasar itu, maka makalah ini akan mengkaji akar kebudayaan Barat dengan melacak fondasi kebudayaan itu dari sisi pemikiran filsafat dan sains yang melibatkan transmisi pandangan hidup.

Dari Kebudayaan Yunani

Seperti yang telah disebutkan diatas, Yunani adalah faktor penting bagi kebangkitan kebudayaan Barat, meskipun mereka masih berselisih tentang bagaimana faktor tersebut berperan dalam kebudayaan itu. Dalam menggambarkan munculnya filsafat dan sain, para sejarawan Barat, memiliki dua pendekatan. Pertama, bahwa awal dan akar kebangkitan filsafat dan sains Barat adalah warisan intelektual Yunani. Jones dalam A History of Western Thought, misalnya menganggap bahwa “mungkin sejarah kebudayaan Barat bermula dari bermulanya filsafat Barat, dan filsafat Barat dimulai dari abad ke 6 SM dengan tokohnya Thales, Bapak filosof Yunani dan juga dunia Barat”

Pendekatan ini didukung oleh R.B.Onians, W.H.A.Arthur dan lainnya. Asumsi pendekatan ini berdasarkan pada fakta bahwa konsep-konsep mendasar pada filsafat Yunani seperti hakekat akal, jiwa, hidup, hubungan jiwa dan raga dan lain-lain ditangkap oleh para filosof Barat yang datang kemudian lalu diterima oleh bangsa-bangsa semit, Indo-Eropah dan Anglo-Saxon. Namun pada tahap ini, mereka tidak lagi mengakui adanya pengaruh filsafat Yunani. Bagi mereka filsafat Yunani telah dikubur dalam (burried deep), dan tumbuh berkembang dalam pikiran individu dan aliranaliran, meskipun individu filosof atau aliran-aliran tersebut hanya sekedar melakukan kritik dan imporvisasi terhadap konsep-konsep Yunani tersebut. Cara pandang ini berbeda dari cara pandang orientalis ketika membaca sejarah filsafat Islam. Filsafat Islam hanya dianggap carbon copy dari filsafat Yunani. Nampaknya framework ini berusaha untuk mengkaitkan pemikiran Yunani dengan Indo-Eropah melalui persamaan konsep-kosepnya. Framework kedua yang dipelopori oleh Couplestone dan Holmes menganggap framework ini lemah, sebab sekedar melacak persamaan akan mengakibatkan kesimpulan bahwa jika suatu pemikiran memiliki kesamaan dengan yang lain, maka yang satu berasal dari yang lain. Artinya suatu pemikiran bangsa manapun yang sama dengan pemikiran Yunani bisa dianggap berasal dari Yunani, padahal persamaan tidak selamanya berimplikasi asal usul.

Menurut framework ini antara Barat dan Yunani terdapat hubungan, tapi bukan dalam arti meminjam, asal usul atau permulaan. Bagi Couplestone setiap kali terdapat kesamaan pemikiran antara seorang pemikir dan pemikir lain yang datang kemudian tidak selamanya berarti yang datang kemudian meminjam dari yang pertama. Ionia adalah tempat kelahiran pemikiran Barat, tapi baginya Barat tidak meminjam ide-ide dari Yunani. Holmes juga tidak menggunakan istilah “permulaan” atau “asal usul”, dan sebagai gantinya ia memakai istilah melihat “kebelakang”. Artinya Eropah Barat secara alami melihat kebelakang kepada kebudayaan Yunani abad ke lima SM. Artinya meskipun Barat lahir dari Yunani, tapi ia tidak bermula dari sana. Ia berkembang dengan cara dan tempat yang berbeda. Kedua framework diatas seakan ingin menunjukkan disatu sisi bahwa filsafat Yunani adalah satu faktor, sedangkan filsafat Barat adalah faktor yang lain.

Namun disisi lain juga tidak dapat diingkari bahwa keduanya saling berhubungan dalam kurun waktu yang panjang melalui proses asimiliasi yang asasnya adalah aktifitas intelektual yang melibatkan faktor-faktor lain selain Yunani sendiri. Sebab Yunani sendiri tidak dapat di anggap satu-satunya faktor penentu atau sumber bagi kebangkitan kebudayaan Barat. Dalam hal ini Coupleston membuat permisalan bahwa:Menganggap bahwa jika beberapa adat istiadat atau ritual Kristen yang sebagiannya berasal dari Agama-agama Asia Timur, maka [berarti] Kristen pasti telah meminjam adat dan ritus itu dari Asia adalah absurd. Sama absurdnya ketika menganggap jika pemikiran spekulatif Yunani mengandung beberapa pemikiran yang sama dengan filsafat Timur, maka yang kedua bersumber secara historis dari yang pertama. Padahal, akal manusia sangat mungkin untuk melakukan interpretasi terhadap pengalaman yang sama dengan cara yang sama…..walaupun ketergantungan aliran-aliran Filsafat Romawi terhadap pendahulu mereka dari Yunani tidak dapat dipungkiri, namun kita tidak dapat menafikan wujudnya filsafat di dunia Romawi.

Pernyataan di atas berarti bahwa filsafat Yunani dan Barat tidak dapat dianggap sesuatu yang kontinum. Yang kedua tidak semestinya berakar pada yang pertama. Jika framework ini ditrapkan pada alam pikiran Islam, maka filsafat dan sains yang dihasilkan oleh Muslim pada Abad Pertengahan dapat dikatakan sebagai filsafat dan sains Islam dan tidak ada kaitannya dengan Yunani. Tapi sayangnya framework ini ditrapkan hanya pada filsafat dan pemikiran Barat dan tidak ditrapkan pada pemikiran dan filsafat Islam. Meskipun Muslim dianggap telah meminjam beberapa elemen penting dari Yunani, India dan Persia, mereka tidak dapat dikatakan sebagai sumber filsafat dan sains Islam. Sebab pinjam meminjam antar kebudayaan adalah sesuatu yang alami pada setiap kebudayaan.

Dari Abad Pertengahan

Jika Ionia, tempat bermulanya pemikiran Yunani, dianggap sebagai tempat kelahiran kebudayaan Barat, maka seharusnya ia bermula dari sana dan terus berkembang hingga abad modern. Seperti seorang manusia, suatu kebudayaan lahir tumbuh terus menerus dan kemudian mati. Maka dari itu jika suatu kebudayaan tidak lagi tumbuh, maka ia dianggap mati. Dalam kasus Yunani, sesudah berakhirnya zaman kuno oleh Aristotle (384-322 BC) atau yang paling akhir Plotinus ( 204-270), di sana tidak ada lagi perkembangan yang berarti, khususnya dalam bidang filsafat dan sains. Dari periode ini hingga abad ke 6 atau 8 M, Barat melalui zaman yang disebut Zaman Kegelapan (Dark Ages), yang berarti keberlangsungannya terputus. Disinilah mungkin alasannya mengapa beberapa sejarawan Barat menolak Yunani sebagai tempat kelahiran Kebudayaan Barat. Sebab sesudah berakhirnya Zaman Kegelapan, Barat memulai periode perkembangannya yang baru sebagai persiapan menuju kebangkitan. Zaman baru yang kemudian disebut dengan Abad Pertengahan (Middle Ages atau Medieval) dianggap sebagai permulaan kebudayaan Barat. Bagi Holmes peradaban Barat tercipta pada periode ini.

Namun karena terdapat kontroversi dikalangan sejarawan tentang waktu yang pasti kapan persisnya Zaman Kegalapan bermula, maka waktu yang pasti kapan Zaman Pertengahan dimulai juga masih diperdebatkan. Martin menganggap Abad Pertengahan bermula dari tahun 800 M, pada masa Cherlemagne atau tahun 1000 M, ketika serangan terhadap kebudayaan Eropah Barat berakhir.  John Marenbon menganggap tahun 1000 atau abad ke 11 sebagai permulaan Zaman Pertengahan periode akhir, tapi awalnya bermula dari tahun 480 M yang ditandai oleh datangnya Boethius. Upaya untuk menetapkan permulaan Zaman Pertengahan sebelum abad ke 8, nampaknya hanyalah untuk mencari hubungan Barat dengan masyarakat Kristen. Tapi sebenarnya sebelum Abad ke 6 atau yang agak akhir abad ke 8, Barat belum mulai bangkit. Itulah sebabnya abad ini disebut Abad Kegelapan.

Pada periode ini, khususnya, di awal abad ke 6, Kristen telah menyebar keluar dari tanah kelahirannya Palestina ke Eropah, Mesopotamia, Armenia, Caucasus, Nubia dan Abyssinia. Namun di daerah-daerah dimana Kristen tersebar tidak ada bukti kuat akan adanya prestasi intelektual, yaitu dalam bidang filsafat dan sains. Meskipun waktu itu, yakni abad 3 dan 5 M, banyak cendekiawan Kristen yang menguasai filsafat Yunani, tapi filsafat Yunani hanya diserap kedalam diskursus teologi saja. Maka dari itu apa yang dianggap filsafat pada masa itu, menurut Marenbon bukanlah filsafat, tapi teologi. Itulah sebabnya kontribusi para paderi Kristen terhadap perkembangan filsafat pada awal Abad Pertengahan di Barat, dianggap sangat minim.  Alasannya jelas, bahwa pemikiran spekulatif Yunani pada masa itu tidak banyak yang diterjemahkan. Maka dari itu menetapkan waktu awal kebangkitan kebudayaan Barat pada abad ke 6 adalah tidak relevan. Jika Abad Pertengahan dianggap sebagai akar kebangkitan Barat, maka semestinya pada abad ini terdapat segala sesuatu bagi persiapan kebangkitan Barat. Tapi menurut Willian R Cook et al., dalam bukunya The Medieval Worldview, Yunani kuno masih tetap dianggap sebagai  ldquo; inventor & rdquo ; terbesar bagi kebudayaan Barat dibanding yang lain. Aspek-aspek seni dan sastra, penulisan sejarah, demokrasi, cabang-cabang filsafat termasuk filsafat politik, etika dan ilmu-ilmu yang sekarang dikelompokkan sebagai ilmu-ilmu alam (natrual sciences) berasal dari Yunani. Tapi dari itu semua warisan Yunani terpenting yang disumbangkan kepada Abad Pertengahan adalah pemikiran dua filosof besar Plato dan Aristotle.

Sejarawan David Knowles dalam The Evolution of Medieval Thought bahkan menyatakan bahwa hampir semua pemikiran filsafat Abad Pertengahan yang paling utama diambil dari pemikiran Athena antara tahun 450-300 SM, maksudnya dari pemikiran Plato. Menurut William, semua pemikiran Aristotle tidak ada yang dibuang pada Abad Pertengahan. Bahkan kompilasi undang-undang gereja abad ke 12 dan digunakan pada abadabad berikutnya disusun berdasarkan prinsip-prinsip logika Aristotle. Sintesis teologi Thomas Aquinas yang terkenal yaitu Summa Theologiae tersusun berkat logika Aristotle. Tapi masalahnya, baik pemikiran Plato maupun Aristotle tidak diketahui masyarakat barat Abad Pertengahan secara langsung. Terjemahan Boethius terhadap sebagian karya logika Aristotle tahun 500 M, pun tidak diketahui oleh masyarakat Eropah Barat dari abad ke 8 hingga abad ke 12.

William menggambarkan bahwa akar Abad Pertengahan adalah percampuran antara Yahudi-Kristen dan Yunani- Romawi yang terjadi dizaman kekaisaran Romawi. Namun, Romawi tidak betahan lama dan digantikan oleh kultur Kristen-Latin, meskipun tanpa dukungan institusi yang kuat. Tak lama kemudian kebudayaan Jerman dan Celtic, khususnya Irlandia masuk dan mempengaruhi pandangan hidup Barat. Periode ini menurut William sangat penting bagi perkembangan kebudayaan Barat. Disini persoalan dari mana Barat Abad Pertengahan belajar pemikiran Plato dan Aristotle masih kabur dalam sejarah Barat. Yang pasti Barat Abad Pertengahan telah berhasil keluar dari Abad Kegelapan (Dark Ages) dan mengembangkan suatu pandangan hidup baru (new worldview) yang mengantarkan mereka kepada abad Pencerahan. Dalam masalah ini Alparslan berkomentar & ldquo ; if the West did not develop a new worldview in the Middle Age, they would not be able to come out of the Dark Ages and as a result no adequate environment for scientific progress would have been possible within that civilization” Hanya pertanyaannya, darimanakah Barat Abad Pertengahan memperoleh pandangan hidup baru itu?

Dari Pandangan Hidup Islam

Jawaban dari pertanyaan diatas tidak lain hanyalah faktor Islam. Faktor yang tidak banyak diperhitungkan oleh sejarawan Barat. Kebangkitan Islam dengan pandangan hidup yang baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengalami penyebaran yang cepat dibawah kekhalifahan bani Umayyah, dan kemudian Abbasiyah dari abad ke 6 hingga 15 M.

Pada zaman inilah Abad Kegelapan dan Abad Pertengahan Barat berada, dan Kristen pada masa itu tersebar dipinggiran dunia Islam. Pandangan hidup Islam secara perlahan-lahan termanifestasikan kedalam kegiatankegiatan intelektual dan keilmuan. Sebagai hasilnya, dapat disaksikan ketika Muslim menaklukkan dan menguasai Spanyol dan daerah lain seperti Levant. Kawasan ini kemudian menjadi daerah yang paling cerah dan menjadi kehidupan kultural yang paling dinamis dalam peta kebudayaan Kristen di Barat.. Dizaman kekhalifahan Bani Umayyah, misalnya Muslim telah banyak mentransmisikan pemikiran Yunani. Hampir semua karya Aristotle, dan juga tiga buku terakhir Plotinus Eneads, beberapa karya Plato dan Neo-Platonis, karya-karya penting Hippocrates, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain sudah berada di tangan Muslilm untuk proses asimilasi.  Jadi Muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani tersebut. Mereka mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Jadi proses asimilasi terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Artinya ummat Islam mengadapsi pemikiran Yunani ketka peradaban Islam telah mencapai kematangannya dengan pandangan hidupnya yang kuat. Disitu sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam.  Produk dari proses ini adalah lahirnya pemikiran baru yang berbeda dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani. Bandingkan misalnya konsep jawhar para mutakallimun dengan konsep atom Democritus. Jadi, tidak benar, kesimpullan Alfred Gullimaune yang menyatakan bahwa framework, skop dan materi Filsafat Arab dapat ditelusuri dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistim ummat Islam.  Sebab pemikiran Yunani, menjadi tidak dominan setelah proses transmisi. Muslim lebih berani memodifikasi pemikiran Yunani dan mengharmonisasikannya dengan Islam keimbang masyarakat Barat Abad Pertengahan, sehingga akal dan wahyu dapat berjalan seiring sejalan dan pemikiran Yunani tidak lagi menampakkan wajah aslinya.

Berbeda dari Muslim, masyarakat Barat Abad Pertengahan yang mengaku mengetahui karya-karya Yunani, ternyata tidak mampu mengharomiskan filsafat, sains dengan agama. Kondisi ini kelihatannya yang mendorong para teolog Kristen menggunakan tangan pemikir Muslim untuk memahami khazanah pemikiran Yunani. Jika pemikiran Muslim didominasi pemikiran Yunani, maka wajah peradaban Islam di Spanyol mestinya adalah wajah Yunani. Tapi realitanya, Spanyol adalah satu-satunya lingkungan kultural Muslim yang dominan, padahal kawasan itu merupakan tempat pertemuan kebudayaan Kristen, Islam dan Yahudi. Fakta sejarah membuktikan bahwa di Spanyol orang-orang Kristen tenggelam kedalam apa yang disebut sebagai Mozarabic Culture. Kultur Islam yang dominan inilah mungkin yang memberi sumbangan besar bagi lahirnya pandangan hidup baru di Barat. Morris menggambarkan bahwa kontak dan konflik antara Kristen-Yahudi dan Muslim memberi stimulus tidak saja kepada bangkitnya ideologi dan intelektualitas Eropah Abad Pertengahan, tapi juga imaginasinya.  Maksudnya kuriositas orang-orang Barat tumbuh ketika menyadari bahwa Muslim memiliki pandangan hidup yang canggih (sophisticated) dan ilmu pengetahuan yang kaya lebih dari apa yang terdapat di dunia Latin. Inilah yang sebenarnya terjadi.Dari perspektif teori terbentuknya pandangan hidup kita dapat menyatakan bahwa Spanyol adalah tempat dimana Barat menyerap aspirasi dari Muslim bagi pengembangan pandangan hidup mereka. Atau setidak-tidaknya, Barat memanfaatkan pertemuan mereka dengan Muslim untuk memperkaya pandangan hidup mereka. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Barat menempuh berbagai macam cara untuk mentransfer aspek-aspek penting pandangan hidup Islam yang berupa konsep-konsep itu.

Jayusi mengkaji dan menemukan bahwa model transformasi kultur Islam ke dalam kebudayaan Barat ada lima: pertama, melalui cerita-cerita dan syair-syair yang ditransmisikan secara oral oleh orang-orang Barat. Kedua, dengan cara kunjungan atau tourisme, pada abad ke 7 M, Cordoba adalah ibukota negara Islam yang menonjol dan merupakan kota yang paling berperadaban di Eropah, dan karena itu orang Eropah berduyun-duyun mengunjungi tempat ini untuk belajar dari peradaban Islam. Ketiga, waktu itu terdapat hubungan perdagangan dan politik resmi melalui utusan yang dikirim dari kerajaan-kerajaan di Eropah. Keempat, dengan cara menterjemahkan karya-karya ilmiyah orang Islam. Faktanya, monastri-monsatri Eropah, khususnya Santa Marie de Rippol, pada abad 12 dan 13 M memmiliki ruangan penyimpan manuskrip bagi sejumlah besar karya-karya ilmiyah orang Islam untuk mereka terjemahkan. Kelima, untuk kelancaran proses penterjemahan rajaraja Eropah mendirikan sekolah untuk para penterjemah di Toledo, tepat sesudah pasukan Kristen merebut kembali kota tersebut pada tahun 1085. tujuannya adalah untuk menggali ilmu pengetahuan Islam yang terdapat pada perpustakaan perpustakaan bekas jajahan Muslim itu. Namun, kebangkitan Barat tidak terjadi langsung sesudah proses tranformasi tersebut diatas. Sebab tidak ada peradaban yang bangkit secara mendadak dan tiba-tiba, sekurangkurangnya diperlukan waktu satu abad lamanya bagi suatu peradaban untuk bangkit. Islam sendiri bangkit menjadi sebuah peradaban yang memiliki konsep-konsep kepercayaan, kehidupan, keilmuan dan lain sebagainya sesudah beberapa abad lamanya. Dari awal kemunculannya pada abad ke 7 M, Muslim baru dapat muncul sebagai peradaban yang kuat pada abad ke 12 M, disaat mana para cendekiawannya mampu menguasai ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan India, dan kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan baru yang telah disesuaikan dengan konsep-konsep penting dalam pandangan hidup Islam. Ilmu-ilmu yang dihasilkan diantaranya adalah matematika, kedokteran, farmasi, optik dan lain-lain. Ini bukan sekedar sistimatisasi ilmu pengetahuan Yunani, seperti yang di duga para orientalis, tapi menyangkut hal-hal yang detail dan bahkan menghasilkan prinsip-prinsip baru dalam bidang sains, sehingga hasilnya sains dalam Islam, dalam bahasa Willian McNeil "went beyond anything known to these ancient preceptors".

Sesudah melalui sejarah yang panjang proses transformasi dan penyerapan peradaban Islam ke dalam kebudayaan Barat, para ilmuwan Barat, dibawah kepemimpinan para pendeta Kristen, mulai mengembangkan filsafat dan sain mereka. Oleh sebab itu perkembangan Eropah Barat yang terjadi pada pertengahan abad ke 13 intinya adalah kombinasi elemen yang sering dinamakan Greco-Arabic-Latin. Selanjutnya, pada akhir abad ini kerajaan Kristen di Barat menjadi kekuatan kultural yang menonjol. Dan dengan berakhirnya abad ke 15 konsep-konsep mereka tentang alam semesta dan ilmu pengetahuan menjadi matang dan melapangkan jalan bagi perkembangan filsafat dan sains di Barat. Fakta-fakta sejarah dan framework para sejarawan dalam memahami fakta-fakta tersebut dapat diuji dengan merujuk kepada teori lahirnya pandangan hidup. Pembentukan suatu pandangan hidup dalam pikiran kita terjadi melalui kultur, teknologi, pemikiran keilmuan, keagamaan dan spekulasi yang diperoleh dari pendidikan atau upaya sadar dalam mencari ilmu. Jadi pandangan hidup diperoleh melalui proses alami, pendidikan dan masyarakat, serta agama. Setelah suatu pandangan hidup terbentuk, masyarakat dapat mengatur kehidupan mereka berdasarkan pada pandangan hidup, dimana ide, kepercayaan dan konsep-konsep membentuk suatu jalinan konsep yang saling berhubungan atau architectonic network, untuk meminjam istilah Kant.

Ketika bangunan konsep dalam suatu pandangan hidup telah terbentuk maka adapsi, tansmisi dan transformasi konsep-konsep asing adalah sesuatu yang tidak lagi masalah. Tapi dalam kasus kebudayaan Barat, transmisi konsep-konsep asing melalui penterjemahan pada abad ke 5, atau awal Abad Pertengahan, seperti dinyatakan Marenbon, masih sangat sedikit. Ini terjadi karena bangunan konsep dalam pandangan hidup Barat belum terbentuk. Orang-orang Krsiten tidak berani menterjemahkan dan mensintesiskan pemikiran Yunani dengan dengan doktrin Kristen. Pernyataan Peter sangat jelas, bahwa orang Kristen tidak dapat menyempurnakan penterjemahan Organon Aristotle khawatir akan membahayakan keimanan mereka. Mereka tidak mampu menyerap kecanggihan pemikiran Yunani karena tidak adanya mekanisme yang canggih untuk memproduksi konsep-konsep keilmuan yang terstruktur 'scientific conceptual scheme' dalam pandangan hidup mereka. Fakta sejarah menunjukkan bahwa struktur konsep keilmuan di Barat lahir segera setelah mereka bersentuhan dengan peradaban Muslim yang canggih. Jadi ketika peradaban Islam memimpin dunia sejak abad ke 7 M hingga abad ke 15 M Barat tidak hanya mentransfer pemikiran Yunani dari Arab ke Latin, tapi juga menyerap mekanisme intelektual mereka yang canggih.

Temuan Jayyusi tentang cara-cara Barat mentransfer berbagai aspek dari peradaban Islam, merupakan bukti yang memadahi bahwa sebenarnya mereka waktu itu sedang mengembangkan struktur konsep keilmuan dalam pandangan hidup mereka. Setelah mereka mengembangkan pandangan hidup mereka, orang Kristen Barat tidak lagi khawatir menerjemahkan teks-teks Yunani seperti sebelumnya, apalagi teks-teks yang telah disintesakan atau dimodifikasi oleh orang-orang Muslim.

Jadi lahirnya filsafat dan sains di Barat bukan hanya karena jasa terjemahan dari Yunani ke dalam Islam atau Islam ke Latin, tapi juga karena adanya transmisi pandangan hidup Islam yang memilik struktur konsep keilmuan yang canggih kedalam pemikiran orang Barat.


Penutup

Dari uraian di atas maka akar kebudayaan Barat bervariasi dan diantara akarnya yang mendorong munculnya abad Pencerahan adalah pandangan hidup Islam. Untuk menggaris bawahi kajian diatas pernyataan al-Attas yang sangat tepat dan penting untuk dikutip adalah bahwa kebudayaan Barat: …..berkembang dari fusi kultur, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi; dicampur dengan Yahudi dan Kristen, yang kemudian dikembangkan dan dibentuk oleh orang-orang Latin, Jerman, Celtic dan Nordic. Dari Yunani diambil elemen filsafat dan epistemologi, dasar-dasar pendidikan, etika dan estetika; dari Romawi diambil elemen hukumnya, ketata-negaraan dan pemerintahannya; dari Yahudi dan Kristen diambil elemen kepercayaannya dan dari orang-orang Latin, Jerman, Celtic dan Nordic diambil jiwa independen, nasionalisme dan nilai-nilai tradisionalnya. Pengembangan ilmu-ilmu alam dan fisika serta teknologi, yang dilakukan bersama orang-orang Slavia telah mendorong mereka mencapai puncak kekuasaan. Islam juga memberi sumbangan sangat penting kepada kebudayaan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan dalam menanamkan semangat rasional dan keilmuan. Namun ilmu pengetahuan dan juga semangat rasional dan keilmuan itu telah dibentuk ulang agar sejalan dengan kultur Barat, sehingga semuanya menyatu dan bercampur dengan elemen-elemen lain yang membentuk ciri-ciri dan wajah kebudayaan Barat. Poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa diantara akar kebudayaan Barat adalah ilmu pengetahuan, semangat rasional dan keilmuan yang disumbangkan Islam, dan itu semua merupakan elemen terpenting yang merupakan produk pandangan hidup Islam. Namun, tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa karena Barat mengambil dari Islam, maka Muslim sekarang dapat mengambil segala sesuatu dari Barat. Sebab, seperti dinyatakan oleh al-Attas, konsep-konsep Islam yang diambil Barat telah dimodifikasi sehingga nilainilai Islam tidak dapat lagi dikenali, yang nampak menonjol adalah wajah kebudayaan Barat. Proses yang sama juga terjadi ketika Islam sebagai peradaban yang memiliki konsep-konsep yang kuat, konsep-konsep pinjaman dari kebudayaan asing dimodifikasi dan ditransmisikan kedalam lingkungan konsep Islam dan hasilnya adalah konsepkonsep yang berwajah Islam. Proses itu perlu kini perlu dilakukan kembali agar konsep-konsep asing menjadi tuan rumah dalam peradaban Islam yang agung ini.

MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG BLOG LSBO KHALIFAH DALAM PROSES PERBAIKAN.........